Tampilkan postingan dengan label Jawa Barat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jawa Barat. Tampilkan semua postingan

05 Mei 2011

Sjafruddin Prawiranegara Diusulkan Lagi Jadi Pahlawan Nasional


Tahun ini Pemerintah Jawa Barat mengusulkan lagi Sjafruddin Prawiranegara sebagai pahlawan nasional. "Pemerintah Jawa Barat sudah 2 kali mengusulkan Pak Sjaf sebagai pahlawan nasional, tapi usaha itu belum membuahkan hasil," kata Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan di Bandung.


Dua kali Ketua Presiden Darurat Republik Indonesia (PDRI) di zaman Agresi Militer Belanda II itu diusulkan menjadi pahlawan Nasional pada 2007 dan 2009. Tahun ini, kata Heryawan, Pemerintah Jawa Barat menggandeng Provinsi Sumatra Barat dan Banten untuk mengusulkan hal yang sama kepada pemerintah pusat.

Hari ini, Pemprov Jawa Barat bersama Komunitas Sejarawan Jawa Barat dan Panitia Seabad Sjafruddin Prawiranegara menggelar Seminar Nasional di Gedung Bappeda Jawa Barat. Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro didapuk menjadi pembicara kunci dalam seminar itu.

Heryawan mengatakan, Sumatra Barat dan Banten diajak mengusung Sjafruddin jadi pahlawan nasional dengan sejumlah alasan. Di antaranya, buyut Sjafruddin, Sutan Alam Intan, masih berdarah Kesultanan Pagaruyung, yang dibuang Belanda ke Banten karena tersangkut pemberontakan Kaum Paderi. Selain itu, Sjafruddin dilahirkan pada 19 Desember 1911 di Banten.

Heryawan berharap, dengan diusung 3 daerah sekaligus, usul itu bisa tembus tahun ini. Sebelumnya Pemerintah Jawa Barat pernah menggandeng Sumatra Barat mengusung M. Natsir menjadi pahlawan nasional.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, pihaknya akan membantu pengusungan Sjafruddin menjadi pahlawan nasional. Sjafruddin, lanjutnya, pernah menjabat juga jadi Menteri Pertahanan. "Kami akan ikut membantu, tapi kami tunggu hasil kesimpulan (seminar ini) seperti apa," katanya ditemui usai berbicara di seminar itu.

Kementeriannya, papar Purnomo, tidak ikut menjadi panitia yang dibentuk pemerintah untuk memutuskan gelar pahlawan nasional. "Kita tunggu hasil kesimpulannya seperti apa," katanya.

Purnomo mengatakan pihaknya memahami soal dukungan itu. Menurutnya, PDRI merupakan upaya penyelamatan Republik. Saat itu, Presiden Soekarno dan Wakilnya M. Hatta ditangkap Belanda dalam Agresi Militer II tahun 1948, dan diasingkan ke Pulau Bangka.

Soekarno-Hatta menugaskan Sjafrudfdin membentuk pemerintahan darurat, lewat telegram yang tak pernah sampai. "Upaya PDRI itu memaksa Belanda berunding, hingga perjanjian Roem-Royen mengakhiri agresi itu," katanya.

Dalam perspektif kementeriannya, kata Purnomo, langkah PDRI itu bagian dari bela negara. "Pengembangan bela negara itu ranah tugas pokok kami di Kementerian Pertahanan," katanya.

Pemerintah menetapkan tanggal 19 Desember sebagai Hari Bela Negara. Tahun ini perayaannya akan dipusatkan di Bukit Tinggi, dengan meresmikan Monumen Bela Negara di sana.

Dalam sesi diskusi di seminar itu, sempat mengemuka konsekuensi pengangkatan Sjafrudin sebagai pahlawan nasional, sama dengan mengakuinya sebagai salah satu Presiden RI.

Pakar hukum tata negara, Jimly Asshiddiqie, termasuk yang menyokong pengakuan itu. Jimly mengatakan, tidak perlu ada keraguan untuk menyatakan Sjafruddin selaku Ketua PDRI antara 19 Desember 1948 sampai 14 juli 1949 sebagai kepala negara. "(Dia) adalah kepala negara dan kepala pemerintahan Republik Indonesia," katanya.

Gubernur Heryawan mengatakan, tahun ini sejumlah tokoh tengah dikaji untuk diusulkan menjadi Pahlawan Nasional oleh pemerintah Jawa Barat. Selain Sjafruddin, katanya, tengah dikaji untuk mengusulkan mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Pengusulan Bang Ali itu akan dibawa bersama dengan Pemerintah DKI Jakarta.( sumber ; Tempo )

Gubernur Jabar Gandeng Intelijen Berantas Jaringan NII


SUKABUMI - Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, mengatakan, pihaknya melibatkan unsur intelijen untuk memberantas gerakan makar yang menamakan diri Negara Islam Indonesia (NII) di wilayah itu. "Pemerintah kami sudah berkoordinasi dengan pihak intelijen yang tujuannya untuk mengungkap dan memberantas jaringan NII di Jawa Barat," kata Ahmad Heryawan usai meninjau pameran yang diadakan di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Fath di Kecamatan Gunungpuyuh, Kota Sukabumi, Jabar, Rabu (4/5).

Selain unsur intelijen, katanya, pihaknya juga bekerja sama pondok pesantren-pondok pesantren di Jabar untuk ikut mengungkap dan memberantas jaringan NII. Selain itu, katanya, tujuan lainnya adalah agar pihak pesantren ikut serta melindungi santrinya dari penyusupan jaringan NII yang setiap hari gerakannya semakin gencar. "Ponpes sangat berperan aktif dalam pemberantasan NII," ujarnya.

Ia menambahkan, pihaknya gencar melakukan sosialisasi bahaya NII ke setiap daerah melalui pemerintah daerah tingkat kota dan kabupaten dengan cara menegakkan keamanan dan ketertiban masyarakat. Namun, dirinya juga tidak menyangkal ada beberapa daerah di Jabar yang sudah dijadikan basis oleh NII untuk melancarkan aksinya.

"Kami tidak bisa menyebutkan nama daerah, dan kami juga sudah berkoordinasi dengan pihak keamanan, Polri dan TNI," tambah Heryawan.

Sementara itu, Kapolres Sukabumi Kota, AKBP Anwar, mengatakan pihaknya juga sudah menyebarkan intelijennya untuk mengungkap jaringan NII di wilayah hukumnya. "Aparat intelijen sudah kami sebar untuk antisipasi penyebaran jaringan NII di wilayah hukum kami," kata Anwar.

Anwar menambahkan, pihaknya juga sudah memiliki data daerah yang diduga dijadikan basis pergerakan NII di wilayah hukum Polres Sukabumi Kota, namun dirinya masih enggan memberikan keterangan daerah mana yang diduga menjadi basis NII dengan alasan masih dalam penyelidikan. Senada dengan Anwar, Dandim 0607 Sukabumi, Letkol CZI Rahmat SW menuturkan, piihaknya juga sudah menyebarkan anggotanya dan intelijennya untuk mengungkap jaringan NII di Sukabumi.

"Kami sudah memiliki data daerah yang diduga sebagai basis NII di Sukabumi, saat ini kami sedang menyelidikinya dan kami pun mengimbau masyarakat agar segera melaporkan jika ada kegiatan yang mencurigakan dilakukan oleh kelompok tidak dikenal di daerahnya," katanya menandaskan.


Redaktur: Djibril Muhammad
Sumber: Antara

02 Mei 2011

Gubernur Minta Instansi Pemerintah Jangan Takut untuk Transparan

Bandung - Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan meminta instansi pemerintah yang berhubungan dengan layanan publik harus siap memberikan data dan informasi secara transparan kepada masyarakat. Badan atau instansi pemerintah diminta tak perlu takut di era keterbukaan informasi saat ini.

"Hak mengakses informasi sudah menjadi kebutuhan masyarakat. Keterbukaan informasi ini dalam rangka kebaikan semua. Kalau kita diminta informasi, lalu tak ada penyimpangan, kenapa harus menghindar," ujar Heryawan saat memberikan sambutannya dalam upacara pelantikan anggota KID Jabar masa jabatan 2011-2015 di Hotel Lingga, Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung

21 April 2011

Operasi sajadah efektif kontra teroris

Operasi "sajadah" yang dilakukan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan patut dinilai sebagai suatu langkah yang tepat untuk mengurangi doktrin jihad yang salah oleh teroris.

Operasi ini akan efektif bila dilakukan secara komprehensif dari seluruh stakeholder kontra teroris.

14 April 2011

Guru Bermain Soal Nilai UN Kena Sanksi

BOGOR (Pos Kota) – Guru yang bermain dalam pelaksanaan Ujian Nasional (UN) 2011, akan kena sanksi tegas. “Bila kedapatan kongkalikong dalam menentukan nilai sekolah untuk memuluskan kelulusan siswanya, maka akan dijatuhi sanksi termasuk dituntut ke pengadilan,” kata Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan saat ditanya  potensi subjektif dari sekolah dalam penentuan kelulusan.

03 Maret 2011

Heryawan, "Bila Perlu Urunan dari Gaji Pejabat"

PELAJAR PEJUANG,(GM)-
Gubernur Jabar berencana menganggarkan dana dari APBD sebesar Rp 1 miliar untuk membebaskan salah seorang TKI asal Subang, Darsem dari ancaman hukuman pancung oleh pemerintah Arab Saudi.

"Ya nanti akan kita bantu, mudah-mudahan bisa mencapai Rp 1 miliar. Anggarannya dari APBD Jabar. Namun hal ini harus konsultasikan dulu ke bagian keuangan. Kalau diperlukan kita juga akan memaksa para PNS di lingkungan pemprov untuk urunan guna membantu Darsem agar terbebas dari hukum pancung di Arab Saudi," jelas Heryawan di sela-sela launching Forum BUMD di Hotel Horison, Jln. Pelajar Pejuang Bandung, Rabu (2/3).

Menurutnya, ia berencana membantu Darsem karena warga Kab. Subang itu merupakan warga Jabar. Selain itu juga atas nama kemanusian demi mengangkat dan menghormati harkat dan martabat bangsa. Ia menambahkan, untuk teknis pemberian bantuan pihaknya masih harus berkoordinasi dengan sejumlah pihak terkait. "Nanti akan kita lihat teknisnya. Kalau memang harus lewat Menteri Luar Negeri ya lewat Menlu," ujarnya.

Berdasarkan informasi deadline untuk menebus hukuman pancung ini 6 bulan. Dengan begitu, pihaknya masih leluasa untuk mengumpulkan bantuan bagi Darsem. Termasuk dari PNS di lingkungan Pemprov Jabar. "Pejabat eselon II dan III gajinya cukup besar ya akan kita mintalah, bukan diimbau lagi, tapi harus dipaksa, demi kemanusian," jelasnya.

Pengadilan di Riyadh sebelumnya menvonis Darsem dengan hukuman pancung. Pihak Kedutaan Besar RI pun sudah berupaya membebaskan Darsem melalui upaya damai pada keluarga korban. Pihak keluarga korban lalu bersedia berdamai dengan kompensasi senilai Rp 4,6 miliar.

Sementara itu, Ketua DPRD Jabar, Irfan Suryanagara menambahkan pihaknya setuju jika pemprov menganggarkan bantuan untuk Darsem. Tentunya, anggaran tersebut harus dibicarakan dulu dengan DPRD Jabar. "Secara pribadi saya akan memberi bantuan. Namun untuk urunan seluruh anggota DPRD nanti akan kita bicarakan dulu," ujar Irfan.

Gubernur Jawa Barat Larang Aktivitas Ahmadiyah


TEMPO Interaktif, Bandung - Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan akan mengumumkan Peraturan Gubernur tentang larangan aktivitas Ahmadiyah pada Kamis (3/3) besok.

"Dalam proses pematangan dan insya Allah besok akan disampaikan secara resmi," kata Kepala Biro Humas, Protokol, dan Umum Sekretariat Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Rudy Gandakusumah, seusai mengikuti pertemuan Muspida di Rumah Dinas Gubernur di Gedung Pakuan Bandung, Rabu (2/2) malam.

Pertemuan itu digelar gubernur bersama Wakilnya Dede Yusuf, Ketua DPRD Jawa Barat Irfan Suryanagara, Kapolda Jawa Barat Irjen Suparni Parto, Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Barat Sugiyanto, Pangdam III Siliwangi Mayjen Moeldoko, Ketua MUI Jawa Barat Hafidz Utsman, dan sejumlah tokoh agama. Pertemuan berlangsung selama hampir dua jam.

Seusai pertemuan itu semua peserta rapat bungkam. Dede Yusuf menolak berbicara dan meminta agar menanyakan hasil rapat langsung kepada gubernur.

Kapolda Jawa Barat Irjen Suparni Parto juga menolak membeberkan hasil pertemuan itu dan menyerahkan penjelasan soal itu pada gubernur. "Sabar sabar sabar," katanya.

Ahmad Heryawan langsung masuk ke dalam ruangan dalam Gedung Pakuan. Rudy membenarkan pertemuan itu membahas pelarangan aktivitas Jemaat Ahmadiyah di Jawa Barat.

Dia mengatakan substansi peraturan itu berkaitan bukan dengan ajaran Ahmadiyah, tapi dengan kegiatannya agar tidak menyalahi Surat Keputusan Bersama dan 12 butir kesepakatan antara pemerintah dan Jemaat Ahmadiyah. "Risalah sudah ditandatangani," kata Rudy.

Menurut Rudy, substansi produk hukum itu mengarah pada pelarangan kegiatan jamaah Ahmadiyah di Jawa Barat. "Muspida sudah sepakat dan arahnya ke sana," katanya.

Saat pertemuan berlangsung, Dede Yusuf sempat mengirim pesan lewat akun Twitternya. "Gub Jabar akan keluarkan Pergub tentang pelarangan aktivitas Ahmadiyah... Sbg bentuk ketegasan demi kemanan dan penegakan SKB 3 Menteri," demikian isi pesan itu.

19 Februari 2011

Provinsi Dukung Warga Protes Film "AGK"

Bandung, CyberNews. Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan memberikan dukungannya kepada warga Karawang yang merasa keberatan atas peredaran film berjudul "AGK" (Arwah Goyang Karawang) yang dirilis pada 10 Februari lalu. Hal tersebut dijelaskan staf ahli gubernur, Dede Mariana usai pertemuan antara Heryawan bersama sejumlah tokoh membahas dampak Film "AGK" di Gedung Sate Bandung, Jumat (18/2).

Menurut Dede, dukungan gubernur itu sebagai respon terhadap surat resmi Bupati Karawang menyoal film tersebut. Heryawan juga memahami perasaan masyarakat Karawang yang merasa didiskreditkan kemudian perlu melakukan protes. "Gubernur akan kirim surat ke Lembaga Sensor Film (LSF). Penekanannya lebih kepada pencantuman "Karawang" dalam film tersebut," jelasnya.

Heryawan sendiri tak mau persoalan film bertema horor tersebut menjadi polemik. Pengamat film, Eddy D Iskandar yang hadir di forum tersebut menilai pelaporan masyarakat Karawang ke LSF sebagai sebuah kewajaran. "Tapi saya harap polemik ini tidak menjadi berkepanjangan. Jangan sampai protes yang dilakukan, publikasinya malah menguntungkan produser sekaligus promosi gratis bagi filmnya," jelasnya.

Dia berharap kejadian itu semakin meningkatkan pemahaman masyarakat dengan lebih memilih film yang baik dan menyehatkan. Film bertema hantu, diingatkannya, sulit mendapat penghargaan di ajang festival film nasional (FFI).

16 Februari 2011

Sikapi Kekerasan, Tokoh-tokoh dan Pemuka Agama Jabar Buat Pernyataan Bersama

Bandung (SJ) - Menyikapi insiden kekerasan yang terjadi terhadap jemaat Ahmadiyah di Cikeusik, Kab. Pandeglang, Banten, dan perusakan rumah ibadah di Temanggung, Jawa Tengah, para pemuka agama di Jabar membuat pernyataan bersama yang disampaikan di Aula Barat Gedung Sate, Senin (14/2/2011).

Dalam acara pernyataan bersama tersebut, hadir perwakilan dari tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, TNI, kepolisian, perwakilan Pemprov dan DPRD Jabar, serta lebih dari 400 tamu lainnya. Hadir juga Gubernur Jabar Ahmad Heryawan, Ketua DPRD Jabar Irfan Suryanegara, Kapolda Jabar Irjen Pol Suparni Parto, Pangdam III Siliwangi Mayjen TNI Moeldoko.

Ketua MUI Jabar, Hafiz Utsman memimpin pernyataan bersama yang berisi empat poin tersebut. Seusai membacakan pernyataan di hadapan hadirin, perwakilan tokoh agama dan berbagai institusi melakukan penandatanganan pernyataan tersebut.

Pernyataan tersebut ditandatangani Ketua MUI Jabar Hafiz Utsman, Uskup Bandung Ignatius Suharya, Ketua PGIW Jabar Pdt. Krisna Ludya Suryadi, Ketua Walubi Jabar Handoyo Oyong, Ketua Parisadha Hindu Dharma Jabar Putu Sulatra, dan Ketua Matakin Jabar Bambang Sukoco.

Selain itu, pernyataan juga ditandatangi Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, Gubernur Jabar, Pangdam III Siliwangi, Kapolda Jabar, Kajati Jabar, dan Ketua DPRD Jabar.

Berikut isi pernyataan bersama para pemuka agama di Jabar:

Menyikapi terjadinya permasalahan keberagamaan serta kekerasan dalam masyarakat yang sering terjadi akhir-akhir ini, kami perwakilan umat beragama se-Jabar menyatakan hal-hal sebagai berikut:

1. Prihatin atas terjadinya konflik antara jemaat Ahmadiyah dengan kelompok masyarakat di Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Banten, dan konflik masyarakat yang mengakibatkan rusaknya tempat ibadah di Temanggung, Jawa Tengah.

2. Bertekad membina kerukunan antar umat beragama, khususnya yang berada di wilayah Provinsi Jabar serta mendukung upaya pemerintah dalam usaha penduduk untuk melaksanakan ajaran agama dan ibadat pemeluk-pemeluknya sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, tidak menyalahgunakan atau menodai agama serta tidak mengganggu ketentraman dan ketertiban umum.

3. Bertekad untuk mengupayakan penyelesaian maslah antar umat beragama, melalui forum dialog dengan mengedepankan prinsip-prinsip musyawarah untuk mufakat.

4. Senantiasa melakukan koordinasi dan melaporkan secepatnya kepada instansi yang berwenang apabila melihat adanya indikasi terjadinya konflik sosial dan tindakan melawan hukum, serta mengajak kepada seluruh komponen masyarakat agar senantiasa menaati ketentuan peraturan perundang-undangan demi terciptanya suasana yang kondusif dan damai di wilayah Jabar.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Skull Belt Buckles