Tampilkan postingan dengan label Metro Cianjur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Metro Cianjur. Tampilkan semua postingan

30 Desember 2011

DISDIK KABUPATEN CIANJUR Database Ngaco, Pemborong Kecewa DAK Tak Bisa Cair

CIANJUR (Suara Karya): Dua puluh paket proyek yang didanai DAK (dana alokasi khusus) bidang pengadaan tahun 2011 senilai Rp 46 miliar pada Dinas Pendidikan (Disdik) tidak bisa cair pada akhir tahun 2011 karena data-data pencairan yang diajukan Disdik ke Dinas Keuangan dan Aset Daerah (DKAD) Pemkab Cianjur tidak sama alias ngaco.

Beberapa orang pemborong-yang dibenarkan pemborong lainnya-menilai kacaunya data yang diajukan pihak Disdik ke DKAD akibat kinerja yang buruk di tubuh Disdik Kabupaten Cianjur.

"Kejadian ini jadi temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Provinsi Jabar, sehingga DAK tidak bisa dicairkan sebelum permasalahan tersebut diselesaikan," kata salah seorang pemborong yang menolak disebutkan namanya.

Kepala Disdik Kabupaten Cianjur, Drs Endang Suhendar, ketika dikonfirmasi melalui telepon, Rabu (28/ 12), membenarkan, 20 paket proyek DAK bidang pengadaan tahun 2011 tidak bisa dicairkan pada tahun 2011 ini. Karena itu, terpaksa akan diluncurkan pada tahun anggaran 2012.

"Tidak dapat dicairkannya DAK bukan karena diblokir oleh BPK, tetapi dari temuan BPK, karena database DPA (daftar pengajuan anggaran) yang kami miliki tidak sama dengan database yang dimiliki DKAD Pemkab Cianjur, sehingga nomor rekening yang diajukan tidak sama dengan yang ada pada DKAD Pemkab Cianjur," katanya.

Diakui Endang, ada kesalahan administratif yang menyebabkan berbedanya database yang dimiliki Disdik dengan database yang dimiliki DKAD. Karena itu, DAK bidang pengadaan terpaksa akan diluncurkan pencairannya pada tahun 2012 setelah dilakukan perbaikan-perbaikan.

"Untuk melakukan perbaikan-perbaikan dalam DPA dan agar dapat diluncurkan tahun 2012 sudah dilakukan pembahasan dengan pihak DPRD Kabupaten Cianjur. Intinya, akan diluncurkan tahun 2012. Mudah-mudahan triwulan pertama sudah dapat dicairkan oleh para pemborong," harap Endang.

Beberapa pemborong, mengatakan, akibat kejadian buruknya kinerja Disdik, pihaknya merasa dirugikan. Padahal mereka sudah bekerja keras agar proyek yang dilaksanakannya selesai sesuai jadwal kontrak dan anggarannya segera dapat dicairkan pula. "Tetapi kenyataannya, anggarannya tidak bisa dicairkan," ujarnya. (*/Sadono)

29 Desember 2011

Ratusan Warga Cianjur Selatan Nikmati Listrik Tenaga Mikro


CIANJUR--MICOM: Sebanyak 135 kepala keluarga (KK) di Desa Cisaranten Kecamatan Cikadu Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, saat ini sudah bisa menikmati aliran listrik.

Hal itu terjadi, setelah terbangunnya pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) bersumber dari dasar aliran Sungai Legok Picung.

Pembangunan PLTMH ini menghabiskan anggaran sebesar lebih kurang Rp1.131.635.000 bersumber dari dana APBD Provinsi Jawa Barat.

Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan UPTD Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Wilayah I Cianjur Dinas ESDM Provinsi Jawa Barat Denny Rachmat G mengatakan, energi alternatif atau energi terbarukan merupakan potensi di wilayah kerja UPTD ESDM Wilayah I Cianjur.

Energi tersebut harus terus dikembangkan melihat manfaat kegiatan tersebut adalah memajukan dan menyejahterakan masyarakat yang belum mendapatkan listrik perdesaan. (OL-11)

23 September 2011

Penambangan Pasir Besi di Kawasan Wisata Sindangbarang, Ditutup

CIANJUR, (PRLM).- Lokasi penambangan pasir besi yang masuk hingga ke kawasan objek wisata tidak memiliki ijin, Rabu (21/9) sudah ditutup, dan kini di lokasi tidak diperbolehkan ada aktifitas lagi. Apabila nantinya masih ditemukan ada yang melakukan aktifitas tentunya akan ada langkah lebih lanjut sesuai aturan yang berlaku.

Hal itu ditegaskan Camat Sindangbarang Sopandi saat dihubungi, Kamis (22/9). Dia mengatakan, penetupan dilakukakan pihaknya, Rabu (21/9) merespon aspirasi masyarakat yang disampaikan saat melakukan aksi unjuk rasa. Sebelum penutupan, pihaknya maupun Dinas Pengelolaan Sumber Air dan Pertambangan (PSDA dan P) Kab. Cianjur sudah beberapa kali menyampaikan teguran supaya aktifitas penambangan di Pasir Dudukuy dihentikan. Namun ketika itu teguran yang disampaikan tidak dihiraukan, sehingga memicu reaksi dari masyarakat.

"Dalam pertemuan dengan unsur muspika maupun perwakilan masyarakat, penanggung jawab penambangan pasir besi di Pasir Dudukuy sudah bisa menerima dan menghentikan aktifitasnya," katanya.

Dikatakan Sopandi, lokasi penambangan yang ditutup itu berada di Pasir Dudukuy Desa Saganten antara Pantai Apra dan Sereg. Pada 15 Agustus 2011 lalu, pihaknya sudah menyampaikan laporan ke Dinas PSD dan P. Sebab dari informasi antara Pantai Apra dan Sereg itu merupakan kawasan wisata, sehingga tidak boleh ditambang dan sebaliknya harus dilestarikan.

Sementara itu Kabid Pertambangan Dinas PSD dan P Kab. Cianjur Endang Suparman membenarkan bahwa pihaknya sudah menyampaikan beberapa kali surat teguran terhadap aktifitas penambangan di Pasir Dudukuy Desa Saganten. Selain itu, pihaknya juga sudah menyampaikan surat penghentian kegiatan terhadap kegiatan pemurnian pasir besi di Desa Jayagiri Kec. Sindangbarang dikarenakan usahanya tidak memiliki ijin termasuk pemberitahuan kepada camat setempat.

"Jadi di dua lokasi itu penambangan maupun pemurniannya tidak memiliki ijin, dan kami sudah berkali kal menyampaikan teguran hingga penghentian, apabila masih ada aktitifitas pihaknya menyerahkan sepenuhnya proses ke aparat penegak hukum," katanya.

Mengenai adanya pro kontra terhadap berbagai bentuk aktifitas penambangan pasir besi, Endang, mengungkapkan hal itu tidak bisa dihindari. Namun pihaknya mengeluarkan SIPR mengacu pada amanat Undang undang bila masyarakat menambang dengan cara sendiri (memakai cara manual) pemerintah wajib mendukung kegiatan itu. Tujuan mengeluarkan SIPR yairu untuk pengembangan wilayah Cianjur selatan. Selain itu ada ketentuan lokasi penambangannya yaitu hanya di ombak terendah dan tertinggi. Apabila diluar itu berarti diluar ketentuan.

"Penambangan rakyat itu murni masyarakat dan pakai alat tradisional, tidak boleh menggunakan alat modern. Apabila ada yang melanggar bisa dikenakan sangsi. Kalau ada temuan melanggar, segera laporkan ke kami. Kalau terbukti bisa diberikan sangsi, soalnya kalau pakai alat modern berarti bukan penambangan rakyat lagi," ujarnya.(A-116/das)***

26 Juli 2011

Demo Supir Angkot di Cipanas Penumpang Terlantar

CIANJUR,- Lebih dari seratus sopir dan awak angkutan umum jurusan Cipanas -Mariwati Kecamatan Sukaresmi Kabupaten Cianjur, Senin (25/7) melakukan aksi unjuk rasa sekaligus mogok tidak menarik penumpang. Aksi tersebut digelar sebagai bentuk protes terhadap buruknya kondisi jalan yang biasa mereka lalui. Selain orasi, mereka juga sempat melakukan aksi blokir jalan selama empat jam.

Para sopir dan awak angkum mulai menggelar aksi sekitar pukul 8.30 WIB. Mereka melakukan aksi di perempatan jalan Hanjawar - Pacet sekitar kawasan Pasar GSP Cibadak. Aksi berlangsung sekitar empat jam. Selain membawa sejumlah atribut, dan menyampaikan orasi, mereka juga melakukan aksi blokir Jalan, menutup jalan menuju Sukaresmi dan sekitarnya sehingga arus lalu lintas menjadi terhenti.

Akibat aksi mogok tersebut, sejumlah warga dan pelajar yang hendak beraktivitas menjadi terganggu. Malahan sebagian dari mereka terpaksa jalan kaki dan menggunakan ojek.

Dalam orasinya, massa menilai Pemkab. Cianjur sudah tidak peduli lagi dengan kondisi jalan yang rusak di wilayah 3 Cianjur. Utamanya ruas jalan menuju Sukaresmi dengan panjang sekitar 5 kilo meter, sudah lama rusak belum juga ada tanda tanda akan diperbaiki. "Kami sudah mengajukan beberapa kali permohonan perbaikan kepada pemerintah. Tapi, hingga kini ajuan tersebut sama sekali tidak ditanggapi, berarti itu artinya pemerintah sudah tidak peduli dengan aspirasi warga," kata Herdi, Kordinator Aksi.

Dia menegaskan seharusnya pemerintah memperhatikan kondisi infrastruktur jalan karena itu merupakan bagian dari kewajiban pemerintah. Apalagi jalur jalan yang rusak didaerahnya, yaitu Cipanas - Sukaresmi merupakan jalur hidup setiap harinya volume kendaraan yang melintas sangat banyak. "Kami hanya menginginkan jalan yang bagus. Jadi kenapa aspirasi kami belum juga direspon, jalan ini sudah lama rusak. Kami para supir angkot selalu membayar pajak, jadi kami minta tuntutan kami segera direalisasikan," katanya.

Dipaparkan Herdi, pihaknya merasa heran sebagian besar ruas jalan desa dan kabupaten di wilayah 3 Kab. Cianjur banyak yang rusak, tetapi belum diperbaiki. Pihaknya menilai wilayahnya seolah dianaktirikan, kurang mendapat respon. Padahal pendapatan asli daerah (PAD) Cianjur lebih dari 60 persen berasal dari wilayah 3 Cipanas. "Kalau tidak segera diperbaiki, kami tidak akan membayar pajak karena uangnya akan kami gunakan untuk mengaspal jalan ini," tegasnya.

Menanggapi adanya aksi tersebut, Kepala Cabang Dinas Binamarga Wilayah Pacet, Eman mengatakan pihaknya akan segera menyampaikan aspirasi para sopir angkum kepada pemerintah Cianjur melalui pihak terkati. Kemudian diharapkan akan ada tindaklanjutnya, sehingga perbaikan bisa cepat dilaksanakan. "Untuk ruas jalan Cipanas - Sukaresmi sudah kami usulkan. Namun untuk merealisasikannya, kami masih menunggu dana bantuan dari APBN dan program dana Jabodetabekjur, " katanya.

Dikatakan Eman perbaikan jalan Cipanas-Sukaresmi sudah masuk ke dalam skala prioritas pemerintah. Sebab jalan itu merupakan akses jalan menuju pemukiman warga yang padat, ditambah lagi ada lokasi objek wisata. Setelah mendapat jawaban, massa akhirnya mulai membubarkan diri, arus lalu lintas berangsur mulai berjalan kembali.(A-116/kur)***(PRLM)

25 Juli 2011

Lahan Produktif di Cianjur Terus Menyempit


Cianjur - Luas lahan pertanian produktif di Kabupaten Cianjur saat ini ditengarai semakin menyempit.

Penyebabnya, sejumlah perusahaan besar di Kabupaten Cianjur yang berdiri diatas lahan pertanian produktif disinyalir belum memberikan penganti lahan yang baru.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, penggunaan alih fungsi lahan produktif menjadi kawasan industri di sejumlah wilayah Cianjur mulai terjadi sejak 2004 hingga tahun 2011. Luasannya mencapai 135,1 hektare.

Tercatat, sedikitnya ada 14 perusahaan besar yang berdiri atas lahan produktif itu dalam rentang waktu hampir 8 tahun.

Kepala Bidang Pertanian dan Ketahanan Pangan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Cianjur, Heni Iriani mengungkapkan, kalau saja mengikuti aturan, seharusnya dari pengalihan fungsi lahan seluas tersebut didapatkan lahan baru seluas 270,1 hektare atau 2 kali lipatnya.

Sementara sampai dengan saat ini, lahan pengganti yang disediakan oleh perusahaan tersebut hanya seluas 84,5 hektare. Sisanya seluas 185,6 hektare masih belum ada atau masih merupakan utang sejumlah perusahaan.

"Kami sebelumnya pernah melayangkan surat ke sejumlah pihak perusahaan terkait persoalan penggantian lahan tersebut. Namun dari 5 perusahaan yang sudah diberikan surat oleh dinas, baru satu perusahaan yang sudah melakukan pengantian lahan tersebut," ujar Heni kepada wartawan belum lama ini.

Heni mengungkapkan dengan tidak adanya pengganti lahan produktif baru, lahan produktif yang ada akan semakin menyempit. Dikhawatirkan, kata dia, bisa berimbas pada ketahanan pangan. Sebab salah satu faktor pendukung kuatnya ketahanan pangan suatu daerah atau wilayah ditentukan oleh banyaknya lahan produktif di daerah atau wilayah tersebut.

"Pada dasarnya bagaimana kita mau menghasilkan pangan yang besar jika lahan tanam pangannya saja sedikit. Tapi minimal kalau jumlah lahannya tetap, nantinya bisa disiasati dengan cara mengoptimalisasikan lahan tersebut dengan menggunakan teknologi," pungkas Heni.(inilah.com) [gin]

19 Juli 2011

Harga Sembako di Cianjur Merangkak


Cianjur: Harga kebutuhan pokok di Cianjur, Jawa Barat, menjelang puasa Ramadan terus mengalami kenaikan.

"Karena sudah dekat bulan Ramadan harga kebutuhan pokok terus mengalami kenaikan. Untuk satu pekan terakhir, sejumlah komoditi, harganya terus bergerak naik" kata Hendra pemilik toko sembako di Pasar Cipanas Indah, Senin (18/7).

Hendra menyebutkan, untuk hari ini harga kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, telur, dan gula mengalami kenaikan. Meskipun tidak tinggi, masing-masing komoditi tersebut kembali naik Rp100 sampai Rp150 per kilogram.

Sementara itu, hingga dua pekan menjelang puasa, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Cianjur belum berniat melakukan operasi pasar. Kepala Disperindag Cianjur, Mohammad Ginanjar, menuturkan alasan belum dilakukannya operasi pasar karena persediaan masih mencukupi.

Selain itu, papar dia, kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok masih dalam batas kewajaran. Namun pihaknya akan terus melakukan pemantauan ke pasar.

"Mungkin sampai Idul Fitri nanti, kami belum bisa pastikan akan melakukan operasi pasar karena persediaan barang masih bisa mencukupi. Sedangkan pemantauan akan kami lakukan setiap hari," ucapnya.

Apabila ada lonjakan harga diatas batas kewajaran, pihaknya akan segera menindaklanjutinya, salah satunya dengan cara menggelar operasi pasar.

"Meskipun ketersedian barang cukup, namun terjadi lonjakan harga yang tidak wajar, baru kita lakukan operasi pasar. Sebelumhya, kami berkoordinasi dengan pihak terkait," ungkapnya.

Pantauan Tim Ketersediaan Sembako Cianjur, kenaikan harga tidak terjadi di semua barang kebutuhan pokok. Kenaikan terjadi pada harga beras biasa dijual bulan Juni Rp6.500 per kilogram, bulan Juli naik menjadi Rp7.000 per kilogram, sedangkan dipasaran saat ini dijual Rp 7.200 per kilogram.

Beras kualitas dua harga rata rata Juni Rp6.200 per kilogram, saat ini dijual Rp7.000 per kilogram.

Selain itu, daging ayam yang semula dijual Rp22 ribu per kilogram naik menjadi Rp24 ribu per kilogram dan dipasaran dijual Rp26 ribu per kilogram. Untuk daging sapi harga Rp58 ribu per kilogram, naik menjadi Rp60 ribu per kilogram. Telur ayam awal Rp15 per kilogram, naik menjadi Rp17 ribu per kilogram.(Ant/DNI)

Kesulitan Premium Warga Selatan Cianjur Belum Teratasi


CIANJUR, (PRLM).- Kesulitan warga beberapa kecamatan di wilayah Selatan Kabupaten Cianjur mendapatkan BBM jenis premium belum bisa tertanggulangi. Sebab SPBU masih memberlakukan pembatasan pembelian BBM terhadap para pengecer. Padahal warga di Selatan Kabupaten Cianjur selama ini membeli BBM di pengecer karena jarak ke SPBU terdekat sangat jauh.

Ramat warga Sindangbarang mengatakan, sampai saat ini persediaan BBM di pengecer belum ada perkembangan, masih terbatas. Akibatnya sering kali dirinya harus keliling dulu mencari BBM karena pengecer terdekat kehabisan stok. "Akibat stok BBM terbatas, harga jadi mahal. Dulu kan harga eceran itu paling mahal antara Rp 6.500 sampai Rp 7.000/liter, sudah hampir sebulan dapat Rp 8.000/liter sudah untung. Kalau info dari pedagang eceran sih persediaan kurang karena pembeliannya dibatasi," katanya.

Sementara manager SPBU di Kecamatan Pagelaran Kabupaten Cianjur Eli Saribanon membenarkan bahwa akhir akhir ini pihaknya melakukan pembatasan pembelian bagi UKM maupun pengecer. Langkah itu dilakukan supaya bisa melayani kebutuhan konsumen. Sebab bila tidak dibatasi dikhawatirkan tidak akan mencukupi untuk melayani konsumen umum perorangan. "Pembatasan dilakukan karena adanya edaran baru terkait pembatasan BBM untuk UKM dan pengecer. Misal, kalau sebelumnya ada kebutuhannya mencapai 20 drum, kini terpaksa hanya bisa dilayani sekitar tiga drum saja," katanya.

Dikatakan Elis, sebelumnya pasokan sering terlambat, kiriman BBM tiba malam hari. Sedangkan saat ini lebih cepat, menjelang sudah sampai. Namun pihaknya belum bisa memenuhi semua permintaan, sehingga pembatasan pembelian bagi UKM dan pengecer yang memiliki ijin dengan menggunakan jerigen dan Drum masih dilakukan. "Memang banyak yang protes, tapi mau bagaimana lagi. Karena kami tidak mau adanya gejolak di masyarakat, sehingga terus berupaya bisa melayani semuanya dengan cara pembatasan pembelian," katanya.

Dijelaskan Eli, SPBU tempatnya melayani kebutuhan BBM warga di 13 Kecamatan. Sebab SPBU terdekat dengan warga di 13 kecamatan itu hanya ada di Pagelaran. Sedangkan SPBU terdekat lainnya, jaraknya 25 km dari pagelaran ada di Kec. Sukanegara. pihaknya mendapatkan pasokan 16.000 liter premiun setiap harinya. Sedangkan solar sebanyak 16.000 liter dua hari sekali. Pasokan setiap hari dibagi dua, yaitu 8.000 liter untuk umum dan 8.000 liter lagi untuk pengecer. (A-116/das)***

06 Juli 2011

Pedagang Pasar Cipanas Desak Pemkab Cianjur Tutup Toko Retail Pakaian


Pedagang tergabung dalam Dewan Perwakilan Pedagang (DPP) Pasar Cipanas, Senin (4/7) melakukan aksi unjuk rasa ke Kantor Pemkab Cianjur. Mereka mendesak pihak terkait agar menutup operasional toko retail busana yang baru dibuka di depan Pasar Cipanas Kec. Cipanas Kabupaten Cianjur.*

CIANJUR, (PRLM).- Sekitar 200 pedagang Pasar Cipanas di Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Senin (4/7), melakukan aksi unjukrasa mendatangi Kompleks Kantor Pemkab Cianjur. Mereka mendesak Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol PP) Kabupaten Cianjur bisa bertindak tegas, segera menutup toko retail pakaian yang ada di depan Pasar Cipanas.

Rombongan massa para pedagang tergabung dalam Dewan Perwakilan Pedagang (DPP) Pasar Cipanas tiba di depan gerbang Kantor Pemkab. Cianjur sekitar pukul 10.00 WIB. Sambil membawa berbagai atribut mereka melakukan orasi terkait kekecewaan pedagang terhadap beroperasinya toko retail pakaian. Sebab mereka menilai keberadaannya merugikan para pedagang pasar.

Dalam aksi tersebut, sejumlah pedagang ibu ibu sempat beberapa kali mendorong pintu gerbang. Mereka meminta berbagai pihak terkait utamanya sat pol pp bisa menemui, sekaligus meminta kepastian tindaklanjut yang akan diambil.

Ketua DPP Pasar Cipanas Nico Paris mengatakan tuntutan yang disampaikan pedagang Pasar Cipanas itu mengacu pada terbitnya surat dari Kantor Pelayanan Perijinan Terpadu dan Penanaman Modal (KPPT-PM) Kabupaten Cianjur. Surat dengan nomor 503/593/KPPT&PM perihal Perijinan tertanggal 21 Juni 2011 itu ditandatangani Kepala KPPT&PM Endang Suhendar yang isinya memerintahkan untuk menutup sementara operasional toko karena tidak mengajukan perijinan terlebih dulu dan belum memiliki ijin gangguan. Sebab dilokasi yang sekarang berdiri toko retail pakaian itu ijin awalnya berupa pekerjaan renovasi bangunan rumah tinggal dan toko bagian depan sebagaimana dimaksud dalam IMB nomor 309/648.12/93 tanggal 12 Oktober 1993.

"Dasar penutupannya sudah jelas, karena sudah ada perintah dari KPPT dan PM. Tapi Kenapa sampai saat ini Sat Pol PP sebagai penegak peraturan daerah tidak berani bertindak," tegasnya. Namun pasca terbitnya surat itu, pihak manajemen toko hingga saat ini tidak mengindahkannya. Itu terbukti manajemen toko tersebut masih membuka tokonya.

Oleh karena itu, pihaknya mendesak agar Sat Pol PP bisa segera melaksanakan isi surat itu menutup aktifitas di lokasi toko. Apabila tidak berani menutup toko sesuai permintaan para pedagang Pasar Cipanas, pihaknya tidak bisa menjamin bila terjadi sesuatu dengan aksi para pedagang. "Penutupan hari ini adalah harga mati. Bagi kami waktu 14 hari sejak keluarnya surat penutupan itu, dirasakan cukup memberikan toleransi. Tapi kenyataannya toko masih buka," katanya.

Rombongan aksi akhirnya diterima berbagai pihak terkait. Mereka melakukan dialog terkait desakan para pedagang. Sementara Kepala Sat Pol PP Kabupaten Cianjur Ucup Ditamihardja belum bisa dimintai komentarnya mengenai tuntutan pedagang Pasar Cipanas. Saat ini sedang dilakukan koordinasi dengan tim terkait menyikapi adanya desakan penutupan toko tersebut. (A-116/das)***

25 Juni 2011

RS Cimacan Kab.Cianjur Didemo Ratusan Warga


RATUSAN massa mengatasnamakan masyarakat Cipanas, Jumat (24/6) melakukan aksi unjuk rasa ke RS Cimacan Kec. Cipanas Kab. Cianjur. Dalam aksinya mereka mengungkapkan kekecewaan terhadap pelayanan RS tersebut kepada pasien warga tidak mampu yang dinilai buruk.*

CIANJUR, (PRLM).- Ratusan massa mengatasnamakan masyarakat Cipanas Kabupaten Cianjur, Jumat (24/6) melakukan aksi unjuk rasa ke Rumah Sakit Cimacan di Kecamatan Cipanas Kabupaten Cianjur. Aksi tersebut dilakukan karena mereka kecewa dengan kinerja dan pelayanan RS Cimacan yang dinilai buruk terhadap pasien dari keluarga tidak mampu.

Rombongan massa datang ke RS Cimacan sekitar pukul 13.30 WIB. Mereka datang sambil membawa sejumlah poster dan spanduk bertulisan kekecewaan terhadap pelayanan RS tersebut, diantaranya "Ada uang pasien di rawat, gak ada uang pasien sekarat". Pengunjuk rasa bergantian melakukan orasi, menyoroti kinerja dan pelayanan RS terhadap pasien tidak mampu.

Selama aksi berlangsung, arus lalu lintas dua arah di Jalan Raya Cipanas menjadi terhambat. Antrian kendaraanpun terlihat cukup panjang. Petugas kepolisian setempat mengatur kendaraan yang melintas secara bergantian.

Dalam orasinya pengunjuk rasa menuntut agar pemerintah daerah dan dinas terkait bisa melakukan pembenahan total dan perbaikan terhadap pelayanan di RS Cimacan, khususnya terhadap pasien tidak mampu.

Kemudian mendesak agar mampu meringankan biaya pengobatan dan bea penggunaan fasilitas RS bagi masyarakat kurang mampu, sekaligus melakukan audit secara transparan. Selain itu meminta agar obat generik yang mendapat subsidi pemerintar disosialisasikan kepada semua pasien.

Koordinator aksi Dadan Supriatna mengatakan kinerja dan pelayanan RS Cimacan terhadap pasien tidak mampu sangat buruk. Selain itu biaya pengobatan dan penggunaan fasilitas RSU juga mahal. "Dalam memberikan pelayanan juga ada pilih kasih antara pasien tidak mampu dengan pasien mampu, seringkali pasien tidak mampu menjadi telantar," ujarnya.

Para pengunjuk rasa menuntut pihak rumah sakit bisa menerima aspirasi mereka. Setelah itu perwakilan rumah sakit menemui pengunjuk rasa. Dalam pertemuan itu, pengunjuk rasa menyampaikan pernyataan sikap dan tuntutan. Kemudian memberikan satu jerigen solar dan uang yang diterima perwakilan RS.

Akhirnya massa membubarkan diri, dan mereka menunggu tindak lanjut dari pemerintah maupun dinas terkait terhadap tuntutan yang telah disampaikan.(A-116/kur)

11 Juni 2011

Jamaluddin : Nelayan Ingin TPI Jayanti dikembalikan ke tempat semula


CIANJUR – Bangunan tempat pelelangan ikan (TPI) di Pantai Jayanti, Kecamatan Cidaun, Cianjur Selatan, kondisinya memprihatinkan. Bangunan yang menghabiskan ratusan juta rupiah ini tidak berfungsi.

TPI Pantai Jayanti terkesan terbengkalai. Di dalam bangunannya sudah menjadi sarang burung walet. Bonang, 42, salah seorang nelayan, mengatakan, pihaknya memang tidak menggunakan TPI tersebut. Alasannya, tempatnya tidak strategis.

”Bukannya kami tidak mau menggunakan TPI tersebut, tapi TPI yang baru dibangun pemerintah itu dirasakan posisinya tidak strategis, jaraknya terlalu jauh dari tempat perahu pada saat kami mendarat ketika membawa hasil tangkapan ikan dari laut,”jelas Bonang. Menurut dia,meski bangunan lama terlihat cukup sederhana, namun lokasinya cukup strategis.Sejumlah nelayan pun tidak kesulitan saat memindahkan hasil tangkapannya.Untuk itu,para nelayan meminta agar TPI dikembalikan ke tempat semula.

”Tempat yang lama jauh lebih strategis bangunannya,dibandingkan dengan bangunan TPI sekarang. Makanya para nelayan berkeinginan agar TPI dipindahkan kembali ke tempat sebelumnya,”harapnya. Ketua Umum Jaringan Independen Aliansi Rakyat (Jidar) Cianjur Jamaluddin Zamianie menilai, pembangunan TPI di Jayanti, besar kemungkinan, dari awal pelaksanaan pembangunan, proyek tersebut tidak terkoordinasi atau diatur dengan baik.

”Artinya tidak ada kerja sama yang baik antara pemerintah dengan para nelayan setempat. Padahal,yang jauh lebih mengerti akan kondisi dan situasi di lokasi adalah para nelayan itu sendiri,”tutur Jamaluddin. Menurut dia, seharusnya pada saat pembangunan, pemerintah harus tahu peruntukan bangunan tersebut secara maksimal.Yang terpenting,katanya, harus koordinasi secara jelas dan cleardengan nelayan.

”Bukan saja pembangunan TPI yang harus diperhatikan, tapi untuk konsep pembangunan di tempat lain, harus lebih dikoordinasikan, sebab semua itu untuk kepentingan masyarakat,” paparnya. Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten CianjurAmbar mengaku,pembangunan TPI tersebut sebenarnya bukan mubazir.Hanya saja, TPI Jayanti ini terlihat kosong.

Menurut dia,hal itu karena banyak nelayan yang tidak melaut akibat faktor alam. ”Yang membuat TPI dan pelabuhan bukan pihak kabupaten, tapi pihak provinsi.Semuanya sudah dilengkapi dengan DED dan FS.Direncanakan ada kolam tempat berlabuh nelayan sehingga memudahkan nelayan untuk memindahkan hasil tangkapannya,”kata Ambar (sumber : Koran Sindo )

Sebelum Agustus 2011 Jalan Provinsi di Cianjur Selatan akan diperbaiki

CIANJUR–Ruas jalan provinsi yang membentang dari Cianjur ke Kecamatan Sindangbarang, Cianjur selatan, pada akhir tahun 2010 mengalami perbaikan. Namun, selang beberapa bulan, jalan tersebut sudah mengalami kerusakan lagi.
Kerusakan diduga selain faktor beban berat kendaraan, juga genangan air hujan (drainase) menjadi penyebab rusaknya badan jalan tersebut. Menurut salah seorang pengendara motor, Nurjaman (41) mengatakan, sangat kecewa dengan hasil perbaikan jalan yang kurang memuaskan.
Menurutnya, badan jalan yang sudah diperbaiki semestinya mendapat perawatan lebih maksimal dari dinas terkait. “Setiap hujan, badan jalan mengalami banjir, saya rasa akibat dari air hujan yang menggenang itu menjadi penyebab rusaknya jalan ini, kendaraan berbobot besar yang melewati ruas jalan ini, itu juga bisa menjadi penyebab rusaknya jalan ini,” kata Nurjaman pada Radar Cianjur.
Menurutnya, setiap jalan yang dibangun dan diperbaiki pihak dinas teknis seharusnya memperhatikan letak geografis tanah di lokasi jalan. Jika tanahnya labil, memungkinkan pengerjaan tersebut tidak akan stabil. “Namun tetap yang lebih utama pihak kontraktor harus memperhatikan kualitas mengacu pada juklak dan juknis,” paparnya.
Munandar (35) tokoh pemuda Cianjur Selatan menilai, perbaikan ruas jalan provinsi maupun Kabupaten Cianjur, tidak akan maksimal serta berkualitas, kalau kondisi saluran drainase yang terletak bersebelahan dengan badan jalan tidak dibenahi terlebih dahulu.
“Siapa pun yang memegang pelaksanan proyek tersebut semestinya harus mengambil langkah untuk memperbaiki saluran drainase dulu sebelum melakukan perbaikan badan jalan itu,” jelasnya.
Sementara itu, Pelaksana Lapangan Balai Wilayah I Cianjur PU Bina Marga Provinsi Jawa Barat Nanang berjanji, atas masukan dan analisa perbaikan dilapangan, pihak Pemprov Jawa Barat tidakakan tinggal diam.
Bahkan ketika ada kondisi jalan yang rusak langsung dilakukan perbaikan. Meski untuk perbaikan yang cukup parah akan dilakukan oleh pihak rekanan. Langkah perbaikan itu, diantaranya tengah melakukan pemeliharaan dari kilometer 173-152, lalu 136-141 km, dan 121-109 km yang dikerjakan Dinas PU Provinsi Jawa Barat. “Sedangkan sisanya dilaksanakan oleh pemborong (rekanan), karena ruas jalan khususnya dari Cibeber sampai Sindangbarang tanggungjawab wilayah I Jabar,” ungkapnya.
Menurutnya, perbaikan jalan di ruas Sukanagara-Sindangbarang ditargetkan sebelum Agustus 2011, titik-titik rusak jalan harus selesai, sehingga dapat dinikmati oleh pengguna jalan.
Sedangkan mengomentari jalan cepat rusak, karena bisa saja faktor alam dan tidak menutup kemungkinan ada kekurangan dalam pengerjaan oleh rekanan. “Meski begitu kami akan selalu mengontrol dan langsung lapor ke Kepala Kantor PU Bina Marga Provinsi, ketika ada temuan di lapangan,” pungkasnya.(rp17)

(sumber:Radar Cianjur)

10 Juni 2011

Ketum JidarR menyambut baik sikap Komisi III DPRD Cianjur


Cianjur,
Terkait dengan adanya dugaan permainan dalam pelaksanaan tender proyek di lingkungan Pemda Kabupaten Cianjur, Komisi III DPRD meminta Bupati Cianjur Tjetjep Muhtar Soleh segera melakukan evaluasi terhadap kinerja seluruh SKPD mulai dari pimpinan sampai dengan bagian teknis termasuk kinerja panitia lelang.

Evaluasi ini harus segera dilakukan untuk melihat sampai sejauhmana kinerja aparat yang ada di setiap SKPD, apakah mereka sudah melaksanakan tugas dengan benar atau malah sebaliknya. Termasuk bagaimana proses pelaksanaan pelelangan yang dilakukan oleh SKPD, karena jika ada persoalan yang mencuat bukan hanya SKPD yang menjadi sorotan tapi pimpinan dalam hal ini Bupati juga kebagian getahnya. Padahal secara kebijakan sudah benar, tapi jika dalam pelaksanaan dilapangan terjadi penyimpangan tetap saja pimpinan yang jadi bahan omongan, ujar Ketua Komisi III DPRD Cianjur, Jimmy Perkasa HAS yang ditemui, Selasa (7/6).

Hasil evaluasi terhadap kinerja SKPD ini menurut Jimmy nantinya bisa dijadikan bahan pertimbangan oleh Bupati saat melakukan mutasi dan rotasi pejabat yang ada di lingkungan pemkab Cianjur. Mengenai adanya dugaan permainan dan pengkondisian dalam pelaksanaan tender proyek di sejumlah SKPD seperti yang diungkapkan sejumlah kalangan di media massa, Jimmy berjanji pihaknya akan menyikapi persoalan tersebut dengan serius.

Kami akan menyikapi persoalan ini dengan serius, bahkan dalam waktu dekat kami akan panggil pimpinan SKPD termasuk panitia lelang untuk memberikan penjelasan, kata Jimmy.

Secara terpisah Ketua Umum LSM JidarR (Jaringan Indipenden Aliansi Rakyat Cianjur), Jamaluddin Zamianie menyambut baik sikap dari Komisi III yang akan menindaklanjuti persoalan dugaan adanya penyimpangan dalam pelaksanaan tender proyek di lingkungan Pemkab Cianjur.

Kami berharap kedepannya pelaksanaan tender proyek di lingkungan Pemkab Cianjur bisa bersih dari KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme), ujar Jamaluddin yang dihubungi, Selasa (7/6).

Jamal mengungkapkan, belum lama ini pihaknya menemukan adanya indikasi kalau pelaksanaan tender baik proyek pengadaan maupun proyek fisik yang dilakukan disejumlah SKPD hanya akal-akalan saja untuk memenangkan salah satu rekanan yang sebelumnya telah menyerahkan sejumlah dana untuk kewajiban.

Menurut Jamaluddin, indikasi adanya tender akal-akalan yang dilakukan oleh sejumlah SKPD tersebut terlihat dari adanya pihak rekanan yang sudah melakukan pekerjaan terlebih dahulu padahal proses tender masih berlangsung.

Bahkan kami menemukan sejumlah bukti berupa kwitansi tanda terima uang dan bukti setoran bank dari pihak rekanan yang diberikan kepada oknum di SKPD sebagai uang kewajiban untuk mendapatkan proyek di dinas tersebut, kata Jamaluddin. (ar)(sumber : Harian Pelita )

07 Juni 2011

Bupati Cianjur ucapkan terimakasih kepada para Camat Kab. Cianjur

Bupati Cianjur Drs. H. Tjetjep Muchtar Soleh, MM.,belum lama ini telah menghadiri silaturahmi bersama para Camat se- Kabupaten Cianjur,bertempat di Rumah Makan Ikan bakar Cianjur. Kegiatan seperti ini dimaksudkan sebagai wahana untuk mempererat tali persaudaraan diantara keluarga besar pemerintahan khususnya para Camat.

Bupati Cianjur Drs. H. Tjetjep Muchtar Soleh, MM mengucapkan terimakasihnya kepada para camat , bahwa keberhasilan Pemilukada tahun 2011 di Kabupaten Cianjur tidak terlepas dari peran serta para camat di wilayahnya terutama masalah keamanan.

Menurutnya, pelayanan terhadap masyarakat harus semakin terus ditingkatkan lagi untuk memberikan kemanfaatan bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pembangunan. Pelayanan yang optimal seyogyanya disertai dengan kerja keras, keramahan, dan sabar dalam menghadapi persoalan- persoalan yang ada di masyarakat yang harus di tindak lanjuti dengan baik.

Silaturahmi ini juga untuk informasi, serta mengevaluasi proses pemilukada yang berjalan lancar dan tidak terjadi hal-hal anarki, hal ini menunjukan akan tingkat kesadaran atau pemahaman tentang demokrasi di Kabupaten Cianjur sudah tinggi. Dengan terpilihnya Bupati dan Wakil Bupati yang baru tentunya harus mampu memberikan warna baru, semangat baru untuk pada perubahan pembangunan yang lebih baik dari sebelumnya dan tentunya bagi camat yang berprestasi diharapkan naik ke ajang yang lebih layak dengan posisinya.

Bupati Cianjur Drs. H. Tjetjep Muchtar Soleh, MM berharap kinerja pelayanan kepada masyarakat harus semakain ditingkatkan, satukan visi dan misi seiring dan sejalan dengan cita-cita pemerintah kabupaten cianjur untuk mewujudkan masyarakat yang lebih sejahtera dan lebih berakhlakul karimah.(wn/hms)

28 Mei 2011

Air Cirata Tercemar, Perkembangan Ikan Melambat


CIANJUR, (PRLM).- Sejumlah pembudidaya ikan air tawar yang pada berbagai jaring apung di Waduk Cirata, Kab. Cianjur, mengeluhkan kondisi melambatnya masa pertumbuhan dan perkembangan fisik komoditas yang diusahakan. Akibat pencemaran air Waduk Cirata, rata-rata masa pertumbuhan dan perkembangan fisik ikan-ikan yang ada melambat 1,5-2 bulan dibandingkan normal.

Pengurus Perhimpunan Pembudidaya Ikan Waduk Cirata (Perpic), Icep Dadan, di Cianjur, Jumat (27/5) menyebutkan, kondisi demikian terutama dirasakan tiga komoditas ikan utama yang diusahakan, yaitu ikan emas, ikan nila, dan ikan bawal. Kendati kondisi ini sudah mulai terjadi tahun 2003, namun pengaruh signifikan terasa sejak setahun terakhir.

"Akibatnya, banyak pembudidaya ikan Waduk Cirata gagal memanfaatkan peluang saat terjadinya lonjakan pesanan ikan air tawar dari pasaran. Ini disebabkan banyak terjadi ikan-ikan yang ada, terlambat memenuhi ukuran selama ini menjadi standar pasar saat pesanan muncul," katanya.

Dikatakan, pembudidayaan ikan emas yang dalam keadaan normal rata-rata tiga bulan sudah dapat dipanen, kini umumnya baru dapat dipanen 4-5 bulan dan banyak yang menjadi buntet. Sedangkan ikan nila semula rata-rata sudah dipanen 5-6 bulan menjadi 7-8 bulan, sedangkan pengusahaan ikan bawal yang sebelumnya menjanjikan harapan baru, mulai terserang penyakit akibat kualitas air yang merepotkan.

Menurut dia, kondisi ini sebenarnya semakin merepotkan para pembudidaya ikan, namun mereka memang dihadapkan harus meneruskan usaha. Ironisnya, para pembudidaya ikan jaring apung di Waduk Cirata juga lamban meningkatkan produksi, selain gagal memanfaatkan peluang peningkatan pesanan, juga jumlah ikan yang terjual pun menurun.

Disebutkan Icep, adanya pencemaran air pada Waduk Cirata, dirasakan sangat memukul usaha para pembudidaya ikan setempat. Terhambatnya masa pertumbuhan fisik, membuat ikan-ikan yang dibudidayakan menjadi rentan penyakit.

27 Mei 2011

Ketua Umum JidarR : Ada Indikasi Rekayasa Politik Terkait Rumor Pembelian Mobil Dinas Baru Bupati Cianjur


Cianjur - Sejumlah elemen masyarakat mengkritisi rencana pembelian mobil dinas baru bagi Bupati/Wakil Bupati Cianjur, serta DPRD. Mereka menyesalkan pembelian mobil dinas baru, tanpa memerhatikan kebutuhan masyarakat di tingkat grass root.

Ketua Umum Jaringan Independen Aliansi Rakyat Cianjur (JidarR), Jamaluddin. Menurut Jamaluddin, pihaknya mengendus indikasi adanya rekayasa politik terkait rumor pembelian mobil dinas baru, baik eksekutif maupun legislatif.

"Yang kami soroti bukan kaitan anggarannya, tapi yang berbicara di sini adalah nurani. Indikasi adanya rekayasa politik sebagai ucapan terima kasih dari bupati dan wakil bupati terpilih dengan dalih sebagai penunjang mobilitas kinerja, memang ada," kata Jamaluddin kepada INILAH.COM, Kamis (26/5/2011) di Sekretariat JidarR, Pamoyanan, Cianjur.

Rumor pembelian mobil dinas bagi kalangan eksekutif dan legislatif disinyalir tanpa melalui proses lelang karena ada peraturan baru, menurut Jamaluddin, sudah menyakiti hati rakyat Cianjur.

"Sekali lagi yang harus digarisbawahi adalah nurani. Masa di tingkat pejabat berkendaraan mewah, tapi rakyatnya sendiri masih ada yang enggak makan. Ini sebuah ironis di tengah kemelut ekonomi yang kerap dialami rakyat banyak," tegasnya.

Sebelumnya, pascapelantikan Bupati dan Wakil Bupati Cianjur terpilih, Tjetjep Muchtar Soleh-Suranto pekan lalu, saat ini mulai mencuat kabar penggantian mobil dinas bagi sejumlah pejabat di Cianjur. Tak tanggung-tanggung, harga satu unit mobil mewah keluaran pabrikan Eropa itu mencapai ratusan juta rupiah.

Berdasarkan informasi, sedikitnya ada lima unit mobil dinas yang diajukan kepada panitia lelang oleh Bagian Umum Setda Kabupaten Cianjur. Satu di antaranya sedan Nissan keluaran terbaru, satu unit jenis jip merek Toyota, dan 3 unit jenis SUV. [gin]

26 Mei 2011

Cianjur dalam Sejarah


Sejarah Kabupaten Cianjur sangat sedikit diketahui, akan tetapi menurut cerita-cerita dari orang tua, daerah Kabupaten Cianjur dahulunya adalah termasuk kedalam wilayah Kerajaan Pajajaran.
Hal ini dapat dilihat dari banyaknya kepercayaan masyarakat Cianjur yang sama dengan masyarakat pada jaman kerajaan pajajaran yang banyak mengenal kebudayaan hindu.

Asal usul Kabupaten Cianjur diketahui setelah masuk pengaruh Islam ke Cianjur dari Kesultanan Banten kira-kira abad XV.
Bupati pertama Cianjur bernama Wiratanu I yang memerintah kira-kira abad XVII berpusat di Cikidul-Cikalong Kulon 20km sebelah utara Kabupaten Cianjur sekarang. Kemudian dipindahkan oleh Bupati Wiratanu II ke tepi sungai dan jalan raya yang telah dibuat oleh Daendels antara Anyer – Panarukan yaitu Kota Cianjur sekarang.

Kota Cianjur menjadi Kota Keresidenan Priangan pada masa Raden Kusumah Diningrat dengan wilayah meliputi Pelabuhan Ratu sebelah barat, Sungai Citanduy dengan barisan Gunung Halimun, Mega Mendung, Tangkuban Perahu sebelah timur, dan Samudra Indonesia sebelah selatan.
Kemudian pada masa Bupati R.A.A Prawiradiredja wilayah Cianjur mengalami perubahan menjadi Cikole sebelah barat, Sukabumi sekarang, Bandung dan Tasikmalaya dengan Ibukota Keresidenan dipindahkan ke Bandung.

Perkebunan karet dan teh merupakan akibat dari sistem tanam paksa (cultur stelsel).
Perkebunan tersebut merupakan tempat hiburan akhir pekan bagi asisten residen dan orang-orang belanda yang tinggal di Cianjur dan cenderung membuat rumah didaerah Cipanas-Puncak.

GEOGRAFIS
Secara Geografis, Kabupaten Cianjur terletak pada 106. 25o -107. 25o Bujur Timur dan 6.21o – 7.32o Lintang Selatan dengan batas-batas administratif :

Sebelah Utara berbatasan dengan wilayah Kabupaten Bogor dan Kabupaten Purwakarta.
Sebelah Barat berbatasan dengan wilayah Kabupaten Sukabumi.
Sebelah Selatan berbatasan dengan Samudra Indonesia.
Sebelah Timur berbatasan dengan wilayah Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut.

Luas wilayah Kabupaten Cianjur +/- 3.501,48 km2 terbagi dengan ciri topografi sebagian besar berupa daerah pegunungan, berbukit-bukit dan sebagian merupakan dataran rendah, dengan ketinggian 0 s/d 2.962 meter diatas permukaan laut (Puncak Gunung Gede) dengan kemiringan antara 1% s/d 15%.

OBYEK WISATA

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Salahsatu dari 33 Taman Nasional di Indonesia yang memiliki keanekaragaman flora dan fauna dengan luas 15.196 Ha serta ketinggian Gunung Gede 2.958 mdpm dan Pangrango 3.019 mdpm.

Terdapat beberapa kawah ; kawah ratu, wadon, lanang dan baru. Lokasi di Kecamatan Pacet dengan jarak tempuh dari Jakarta sekitar 80km.

2. Kebun Raya Cibodas

Merupakan cagar alam yang memiliki 1001 jenis tanaman kaktus yang berusia lebih dari 100 tahun.

3. Istana Presiden Cipanas

Dibangun pada tahun 1740 oleh warga Belanda bernama Van Heuts diatas tanah 25 Ha. Didalam sekitar istana terdapat suatu bangunan yang dapat dikunjungi yaitu Gedung Bentol yang dulunya pernah dipakai Presiden Soekarno menyusun naskah kemerdekaan RI

4. Taman Bunga Nusantara

Taman seluas 23 Ha beriklim tropis yang benar-benar nyaman dan menyenangkan dengan berbagai jenis bunga dari berbagai negara di Asia, Amerika, Afrika, Australia dan Eropa. Lokasi di desa Kawung Luwuk Kecamatan Sukaresmi dengan jarak tempuh sekitar 90km dari Jakarta.

5. Perkebunan Teh Puncak

Pemandangan dengan latarbelakang kebun teh dapat dilihat di Puncak. Merupakan Agrowisata yang indah, sejuk dan nyaman yang sewaktu-waktu diselimuti kabut. Cocok untuk kegiatan ‘Tea Walk’ dan Terbang Layang.

6. Pusat Belanja Wisata

Sepanjang jalur Puncak-Cianjur terdapat banyak tempat menginap hotel berbintang maupun kelas melati, restoran yang menyajikan aneka ragam makanan khas, factory outlet, souvenir, buah-buahan segar, sayur mayur serta bunga/bonsai.

SENI TRADISIONAL

1. Seni Mamaos Cianjuran

Keistimewaannya adalah lagu-lagunya tidak berpatokan pada birama tertentu, sehingga banyak yang bilang bahwa Seni Cianjuran adalah termasuk Seni Jazz.

2. Kacapi Suling, Jaipongan (Ketuk Tilu) dan Calung

MAKANAN TRADISIONAL

1. Tauco

Makanan khas Cianjur yang berasal dari negeri Cina. Terbuat dari kacang kedelai pilihan, diproses secara tradisional.

Pabrik tauco tertua adalah pabrik tauco cap meong, didirikan tahun 1880 di kota Cianjur.

2. Manisan

BUDAYA TRADISIONAL

1. Pengrajin Sangkar Burung
2. Pengrajin Lampu Kuning
3. Pengrajin Cinderamata Bambu dan Kayu

SENI BELADIRI TRADISIONAL
Pencak Silat / Maenpo

Tiga abad silam merupakan saat bersejarah bagi Cianjur. Karena berdasarkan sumber – sumber tertulis , sejak tahun 1614 daerah Gunung Gede dan Gunung Pangrango ada di bawah Kesultanan Mataram. Tersebutlah sekitar tanggal 12 Juli 1677, Raden Wiratanu putra R.A. Wangsa Goparana Dalem Sagara Herang mengemban tugas untuk mempertahankan daerah Cimapag dari kekuasaan kolonial Belanda yang mulai menanamkan kuku-kunya di tanah nusantara.Upaya Wiratanu untuk mempertahankan daerah ini juga erat kaitannya dengan desakan Belanda / VOC saat itu yang ingin mencoba menjalin kerjasama dengan Sultan Mataram Amangkurat I.

Namun sikap patriotik Amangkurat I yang tidak mau bekerjasama dengan Belanda / VOC mengakibatkan ia harus rela meninggalkan keraton tanggal 12 Juli 1677. Kejadian ini memberi arti bahwa setelah itu Mataram terlepas dari wilayah kekuasaannya.

Pada pertengahan abad ke 17 ada perpindahan rakyat dari Sagara Herang yang mencari tempat baru di pinggir sungai untuk bertani dan bermukim. Babakan atau kampoung mereka dinamakan menurut menurut nama sungai dimana pemukiman itu berada. Seiring dengan itu Raden Djajasasana putra Aria Wangsa Goparana dari Talaga keturunan Sunan Talaga, terpaksa meninggalkan Talaga karena masuk Agama Islam, sedangkan para Sunan Talaga waktu itu masih kuat memeluk agama Hindu.

Sebagaimana daerah beriklim tropis, maka di wilayah Cianjur utara tumbuh subur tanaman sayuran, teh dan tanaman hias. Di wilayah Cianjur Tengah tumbuh dengan baik tanaman padi, kelapa dan buah-buahan. Sedangkan di wilayah Cianjur Selatan tumbuh tanaman palawija, perkebunan teh, karet, aren, cokelat, kelapa serta tanaman buah-buahan. Potensi lain di wilayah Cianjur Selatan antara lain obyek wisata pantai yang masih alami dan menantang investasi.

Aria Wangsa Goparana kemudian mendirikan Nagari Sagara Herang dan menyebarkan Agama Islam ke daerah sekitarnya. Sementara itu Cikundul yang sebelumnya hanyalah merupakan sub nagari menjadi Ibu Nagari tempat pemukiman rakyat Djajasasana. Beberapa tahun sebelum tahun 1680 sub nagari tempat Raden Djajasasana disebut Cianjur (Tsitsanjoer-Tjiandjoer).

Dalem / Bupati Cianjur dari masa ke masa

1. R.A. Wira Tanu I (1677-1691)
2. R.A. Wira Tanu II (1691-1707)
3. R.A. Wira Tanu III (1707-1727)
4. R.A. Wira Tanu Datar IV (1927-1761)
5. R.A. Wira Tanu Datar V (1761-1776)
6. R.A. Wira Tanu Datar VI (1776-1813)
7. R.A.A. Prawiradiredja I (1813-1833)
8. R. Tumenggung Wiranagara (1833-1834)
9. R.A.A. Kusumahningrat (Dalem Pancaniti) (1834-1862)
10. R.A.A. Prawiradiredja II (1862-1910)
11. R. Demang Nata Kusumah (1910-1912)
12. R.A.A. Wiaratanatakusumah (1912-1920)
13. R.A.A. Suriadiningrat (1920-1932)
14. R. Sunarya (1932-1934)
15. R.A.A. Suria Nata Atmadja (1934-1943)
16. R. Adiwikarta (1943-1945)
17. R. Yasin Partadiredja (1945-1945)
18. R. Iyok Mohamad Sirodj (1945-1946)
19. R. Abas Wilagasomantri (1946-1948)
20. R. Ateng Sanusi Natawiyoga (1948-1950)
21. R. Ahmad Suriadikusumah (1950-1952)
22. R. Akhyad Penna (1952-1956)
23. R. Holland Sukmadiningrat (1956-1957)
24. R. Muryani Nataatmadja (1957-1959)
25. R. Asep Adung Purawidjaja (1959-1966)
26. Letkol R. Rakhmat (1966-1966)
27. Letkol Sarmada (1966-1969)
28. R. Gadjali Gandawidura (1969-1970)
29. Drs. H. Ahmad Endang (1970-1978)
30. Ir. H. Adjat Sudrajat Sudirahdja (1978-1983)
31. Ir. H. Arifin Yoesoef (1983-1988)
32. Drs. H. Eddi Soekardi (1988-1966)
33. Drs. H. Harkat Handiamihardja (1996-2001)
34. Ir. H. Wasidi Swastomo, Msi (2001-2006))
35. Drs. H. Tjetjep Muchtar Soleh, MM (2006-2011)

dikutip kembali dari blog rivafauziah

19 Mei 2011

Gubernur Sentil IPM Cianjur yang Masih di Bawah Rata-rata

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan sentil Kabupaten Cianjur untuk meningkatkan Indeks pembangunan Manusia (IPM). Karena berdasarkan data yang dirilis BPS Jabar tahun 2010, pada 2009 IPM Kabupaten Cianjur baru mencapai 68,60 poin. Angka tersebut masih dibawah rata-rata IPM Jawa Barat tahun 2009 yaitu sebesar 71,64 poin.

"Saya sangat berharap agar capaian IPM tersebut dapat terus digenjot. Tentunya dengan menjadi prioritas utama pembangunan selama periode kepemimpinan Saudara Bupati dan Wakil Bupati lima tahun mendatang," ujar Heryawan dalam rilis yang diterima detikbandung, Rabu (18/5/2011).

Hal itu disampaikan Heryawan usai melantik Tjetjep Muchtar Soleh dan Suranto menjadi Bupati dan Wakil Bupati Cianjur Masa Jabatan tahun 2011-2016. Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam Rapat Paripurna Istimewa DPRD Kabupaten di Gedung DPRD Kabupaten Cianjur, Jalan KH. Abdullah bin Nuh Cianjur, Rabu (18/5/2011).

Bagi Tjetjep Muchtar Soleh ini adalah periode keduanya memimpin Kabupaten Cianjur.

"Itu merupakan penghargaan dari masyarakat Kabupaten Cianjur atas berbagai kemajuan yang berhasil diwujudkan selama periode kepemimpinannya dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. Tentunya hal itu harus menjadi motivasi untuk menjaga kepercayaan serta harapan yang tinggi dari masyarakat dengan mewujudkan masyarakat Kabupaten Cianjur yang semakin Cerdas, Sehat, Sejahtera dan Berakhlaqul Karimah," katanya.

Dalam kesempatan itu, Heryawan berharap pelantikan kedua kepala daerah dapat menjadi momentum strategis bagi segenap stakeholder pembangunan di Kabupaten Cianjur. Momentum untuk kembali membangun sinergi, konsolidasi serta koordinasi, dalam rangka mewujudkan berbagai akselerasi pembangunan yang lebih baik lagi, termasuk dalam mengelaborasi posisi strategis Kabupaten Cianjur yang termasuk kedalam Kawasan Perkotaan Jabodetabek – Punjur.

Apalagi Cianjur merupakan salah satu dari delapan kawasan strategis nasional di Jawa Barat. Serta untuk memperkuat posisi tawar Kabupaten Cianjur dalam kapasitasnya sebagai salah satu Kawasan Andalan.

Lebih lanjut Heryawan menyatakan dalam konteks regional Jawa Barat, Kabupaten Cianjur memiliki posisi strategis, yaitu sebagai jalur perlintasan dua kota besar (Kota Bandung dan Jakarta). Posisi strategis Kabupaten Cianjur itu tidak dapat dipisahkan dari peran sebagai pusat daerah agraris. Dimana salah satu tumpuan pembangunannya berada pada sektor pertanian, sehingga Cianjur dijuluki sebagai salah satu daerah swasembada padi. Bahkan Cianjur sangat dikenal dengan varietas beras yang berkualitas.

Selain itu, di Kabupaten Cianjur, kemajuan sektor perdagangan diwujudkan dengan postur perdagangan tradisional berwajah modern. Serta didukung potensi pariwisata yang mumpuni, turut memberikan dampak positif terhadap laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Cianjur. Sehingga secara umum perekonomian Cianjur menunjukkan trend meningkat dari tahun ke tahun. Namun kondisi tersebut tidak otomatis menjadikan Kabupaten Cianjur tanpa masalah. Khususnya terkait dengan kualitas sumber daya manusia, yang sesungguhnya merupakan kunci keberhasilan pembangunan.

Dalam kesempatan itu Heryawan menyampaikan ucapan terima kasih serta apresiasi kepada Penjabat Bupati Cianjur beserta seluruh jajaran Pemerintah Daerah, KPUD, Panwas, partai-partai politik dan seluruh elemen masyarakat Kabupaten Cianjur, atas segala kerja keras dan kebersamaan yang telah dibangun. Sehingga meskipun diwarnai pemungutan suara ulang di 4 kecamatan, namun hal itu tidak menghambat kesuksesan Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Cianjur Masa Jabatan 2011-2016. Karena secara keseluruhan pemilihan berlangsung dalam situasi dan kondisi yang relatif lancar, aman dan kondusif.

08 Mei 2011

Wisata Sejarah Stasiun dan Terowongan Lampegan Cianjur


Terowongan Lampegan yang dibangun tahun 1879 hingga 1882, saat ini masuk kawasan Cagar Budaya yang menjadi tujuan utama kunjungan wisatawan karena nilai historis serta suasana masa lalu yang masih terasa.*
MELAKUKAN perjalanan wisata sejarah saat ini tengah begitu diminati. Bukan hanya dikalangan orang tua yang melakukannya untuk bernostalgia, tetapi juga di kalangan komunitas anak-anak muda dan remaja. Kabupaten Cinajur, dalam satu tahun belakangan ini menjadi daerah favorit untuk tujuan wisata sejarah. Hal ini seiring dengan kembali beroperasinya kereta api ekonomi Argo Peuyeum jurusan Bandung-Cianjur. Trayek kereta api yang sebelumnya berangkat dari stasiun Ciroyom (Bandung) dan Lampegan (Cianjur), kini hanya dimulai dari Stasiun Padalarang (Bandung Barat) sampai Stasiun Cikidang (Cianjur).

Pascaperistiwa tanah longsor di dua belas titik jalur Argo Peuyeum yang sebelumnya menyinggahi stasiun kecil, Cibeureum dan Cimahi. Kini perjalanan kereta Argo Peuyem yang terdiri dari dua gerbong dengan ongkos Rp 1.500, dimulai dari Padalarang, melewati stasiun Tagog Apu, Cipatat, Rajamandala, Ciranjang, Cipeuyeum, Selajambe, Cilaku dan berakhir di Stasiun Cikondang Cianjur (Kota).

Ada banyak pilihan wisatawan untuk melakukan perjalanan wisata sejarah di Kota Tauco ini. Namun perjalanan wisata yang paling banyak dilakukan komunitas wisata selain menikmati perjalan kereta Argo Peuyeum, juga menikmati suasana pemandangan perkampungan yang dilalui, serta yang utama mengunjungi Stasiun dan Terowongan Lampegan di Desa Cibokor, Kec. Cibeber, Kab.Cianjur, dan bila masih panjang waktunya, perjalanan bisa diteruskan ke Situs Gunung Padang di Desa Karyamukti, Kecamatan Cempaka, Kab.Cianjur.

“Stasiun Lampegan dan Terowongan Lampegan yang dibangun tahun 1879 hingga 1882 saat ini masuk kawasan Cagar Budaya. Pasca rangkaian peristiwa longsor tahun 2001 dan terakhir pada tahun 2006, kondisi terowongan (Lampegan) saat ini sudah diperbaiki, namun belum dilalui kereta api,” ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Cianjur Himam Haris, saat mendampingi Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, Herdiwan Iing Suranta, beserta jajaran Sub Bidang Kepariwisataan, belum lama ini.

Stasiun Lampegan dan Terowongan Lampegan menjadi tujuan utama kunjungan wisatawan karena nilai historis serta suasana masa lalu yang masih terasa. Bangunan stasiun, rumah kepala stasiun serta terowongan Lampegan masih seperti saat pertamakali dibangun. Hanya warna catnya yang masih baru karena direnovasi tahun 2009 lalu, karena rencananya November 2010 lalu akan kembali dioperasikan, namun urung dilaksanakan.

Terowongan Lampegan sepanjang 686 meter merupakan salah satu terowongan jalan kereta api tertua yang pernah dibangun pemerintah Hindia Belanda di Indonesia. Terowongan Lampegan dibangun perusahaan kereta api SS (Staats Spoorwegen) pada periode 1879 hingga 1882 untuk mendukung jalur kereta api Jakarta-Bogor, Bogor-Sukabumi dan Sukabumi-Bandung melalui Cianjur. Namun karena peristiwa gempa bumi yang mengakibatkan tanah longsor kini panjang Terowongan Lampegan sekira 415 meter.

Menurut Kurnadi (64) salah seorang penduduk setempat, nama terowongan berasal dari bahasa percakapan orang Belanda ketika kereta api memasuki terowongan. "Setiapkali ada kereta yang akan masuk ke dalam terowongan, baik dari arah Cianjur maupun Sukabumi, kondektur spur selalu meneriakan ‘steek Lampen aan!’ yang berarti nyalakan lampu, dan ditelingan kita (orang Sunda) terdengan seperti kata lampegan,” ujar Kurnadi.

Selain suasana esotik masa lalu yang dihadirkan Stasiun dan Terowongan Lampegan, juga cerita heroik pembangunan terowongan di perut Gunung Kancana dengan cara diledakan. “Saat itu, pekerjaan membuat terowongan yang dilakukan para orang tua dan pemuda menjadi tontonan, apalagi saat diledakan bom (dinamit) untuk mempercepat pengerjaan,” ujar Kurnadi.

Tidak kalah menariknya adalah cerita mistik Nyi Ronggeng Sadea. Cerita raibnya Nyi Ronggeng Sadea secara turun menurun hingga kini terus berkembang dimasyarakat sekitar Kamp Lampegan, Desa Cibokor Kec. Cibeber, Cianjur.

Diceritakan pada tahun 1882 Terowongan Lampegan selesai dibangun, untuk menghibur pejabat Belanda dan menak-menak Priangan, diundang Nyi Sadea, seorang ronggeng terkenal waktu itu. Usai pertunjukan, menjelang dinihari Nyi Sadea diantar pulang oleh seorang pria melalui terowongan yang baru diresmikan. Sejak itu Nyi Sadea hilang dan tidak diketahui keberadaannya. (”PRLM”)***

06 Mei 2011

Pertandingan Persahabatan MTs PPI Vs MTs Sirajul Awwam


Dalam rangka mempererat persahabatan antara sesama siswa, terutama antara siswa madrasah tsanawiyah, santriwan dan santriwati Pesanrten Persatuan Islam 04 Cianjur mengadakan pertandingan persahabatan Bola Volly dengan Madrasah Tsanawiyah Sirajul Awwam, Cimenteng Cianjur. Pertandingan persahabatan yang diadakan pada hari rabu tanggal 4 Mei 2011 itu bertempat di Lapangan Bola Volly di lingkungan Pesantren Persatuan Islam 04 Jalan Dr. Muwardi By Pass Cianjur.

05 Mei 2011

Ratusan TKI Bermasalah di Arab Saudi Tiba di Cianjur


CIANJUR--MICOM: Ratusan tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Cianjur, Jawa Barat, yang akhirnya bisa kembali ke kampung halaman mereka, Rabu (4/5), setelah dideportasi oleh pemerintah Arab Saudi.

Sedikitnya 230 orang TKI itu tiba di rumah makan Jembar Manah, Cijedil, Cianjur, pukul 13.00 WIB, untuk istirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke kampung halaman masing-masing. Ratusan buruh migran itu, menumpang 25 kendaraan khusus yang disediakan pihak BNP2TKI.

Mereka terpaksa dipulangkan oleh pemerintah Arab Saudi karena dinilai bermasalah mulai dari aspek legal formal, maupun permasalahan kemanusiaan yang dialami selama berada negara Petro Dolar itu.

Sebagian besar mereka yang dipulangkan tertangkap kepolisian Arab Saudi yang melakukan razia karena tidak memiliki dokumen yang sah. Sebagian lagi ada yang sempat menjadi
gelandangan dan telantar berbulan-bulan di bawah jembatan Kandhara di Jeddah.

Setelah didata pihak kepolisian di negara tersebut dan KBRI di Arab Saudi, akhirnya ratusan TKI asal Cianjur itu dipulangkan bersama TKI asal daerah lain dengan menggunakan kapal Labobar yang berlayar dari Jeddah selama 12 hari. (Ant/OL-01)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Skull Belt Buckles