Tampilkan postingan dengan label Kolom. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kolom. Tampilkan semua postingan

05 Juli 2011

Berpikir dan Berjiwa Besar Dalam Praktek

Ini bukan resensi dari buku Berpikir dan Berjiwa Besar yang merupakan terjemahan The Magic of Thinking Big. Apa yang akan dibahas memang khas Motivasi Islami, tidak ada kaitannya dengan buku itu meski mengambil judul yang sama.

Jadi apa yang dimaksud dengan berpikir dan berjiwa besar? Ada dua istilah yang perlu kita lihat disini, yaitu berpikir besar dan yang kedua berjiwa besar.
Berpikir Besar

Apa yang dimaksud berpikir besar? Kenapa harus peduli dan apa dampaknya dalam kehidupan kita?

Berpikir adalah dasar tindakan Anda. Disadari atau tidak, Anda bertindak sesuai dengan apa yang ada dalam pikiran Anda. Nah dari sinilah, jika Anda memiliki pikiran besar atau berpikir besar, maka Anda akan melakukan tindakan yang besar dan tentu saja akan mendatangkan hasil yang lebih besar pula.

Yang dimaksud dengan besar disini, bukan hanya besar dalam kuantitas saja tetapi juga besar dalam hal kualitas. Keberanian, kecerdasan, kejelian, dan kepekaan terhadap peluang adalah ciri dari kualitas berpikir seseorang. Belum disebut bertindak besar jika hanya kerja keras dengan hasil yang kecil.

Halangan dan rintangan ibarat sebuah batu yang ada di depan kita. Sementara pikiran ibarat kendaraan yang akan melalui batu tersebut. Jika kendaraan jauh lebih besar dibandingkan batu yang ada, maka kendaraan tersebut akan lebih mudah melalui batu tersebut. Namun, jika kendaraannya kecil, bahkan lebih kecil dibandingkan dengan batu yang ada di hadapannya, maka akan sulit untuk melangkah.

Itulah analogi bagaimana peran berpikir besar dalam kehidupan Anda. Seberapa besar pikiran Anda bisa dilihat dari seberapa besar keberanian Anda dalam menghadapi halangan dan rintangan yang didalamnya termasuk masalah dan resiko. Jika Anda mudah ciut menghadapinya, artinya Anda masih berpikir sempit.
Berjiwa Besar

Lalu Apa yang disebut dengan berjiwa besar? Analoginya hampir sama, hanya saja ada dalam jiwa Anda yang berkaitan dengan mental dan emosi Anda. Jika berpikir besar lebih fokus pada masalah logika dan fisik, maka berjiwa besar berkaitan dengan masalah mental dan emosi.

Takut, khawatir, merasa sesak di dada (arti kiasan), pengecut, memilih yang aman, memilih yang pasti, dan rendah diri adalah ciri dari seseorang yang masih memiliki jiwa yang sempit.

Berpikir besar sudah dibahas, berjiwa besar sudah dibahas, masih ada satu kata yang belum dibahas dari kalimat Berpikir dan Berjiwa Besar, yaitu:
Makna Kata DAN

Mana yang lebih penting? Jawabannya adalah keduanya karena sangat berkaitan dan saling tergantung. Untuk itulah saya memilih kata DAN, dalam menulis “Berpikir Dan Berjiwa Besar”, yang artinya keduanya harus ada, tidak bisa memilih salah satu saja.

Kadang, ada orang yang secara intelektual memiliki kemampuan. Memiliki potensi yang besar dalam hal ilmu dan keterampilan, namun karena jiwanya sempit, tetap saja akan terhambat. Banyak juga orang yang memiliki mental berani, tetapi dia berhenti seketika saat menghadapi rintangan yang besar karena tidak terpikirkan bagaimana cara melaluinya. Keduanya penting, keduanya perlu, makanya kita menyebutkan berpikir dan berjiwa besar, bukan berpikir atau berjiwa besar.
Agar Bisa Berpikir dan Berjiwa Besar
Bahan Yang Diperlukan Agar Berpikir dan Berjiwa Besar

Jika pikiran dan jiwa diibaratkan tubuh, supaya bisa menjadi besar maka kita harus memiliki bahan (nutrisi) yang cukup untuk membangunnya. Anda tidak akan pernah bertubuh besar jika tidak memiliki asupan giji yang cukup.

Kabar baiknya, bahan itu sudah ada tinggal mencarinya. Begitu juga potensi dalam diri Anda pun sudah memadai untuk mengolahnya, yaitu akal dan hati serta tubuh Anda yang merupakan potensi yang diberikan Allah kepada setiap manusia. Bahan itu sudah ada, maka Anda tinggal menggunakan bahan yang ada. Artinya Anda perlu ilmu agar bisa membangkitkan potensi dalam diri Anda.

Maka langkah-langkahnya agar memiliki pikiran dan berjiwa besar adalah

1. Memahami dan meyakini bahwa Anda memiliki potensi yang cukup untuk membangun pikiran dan jiwa sebesar apa pun.
2. Memiliki ilmu dan keterampilan bagaimana menggunakan pikiran untuk menghasilkan ide yang disebut dengan kreativitas.
3. Memiliki ilmu dan keterampilan untuk memanfaatkan potensi-potensi yang ada.

Dan ternyata, bisa Anda lihat bahwa ketiga langkah diatas bertumpu pada belajar atau menuntut ilmu.
Melatih Pikiran dan Jiwa

Anda tidak akan langsung berpikir dan berjiwa besar sesaat setelah membaca artikel ini. Ibaratnya sama dengan tubuh, meski Anda sudah memakan makanan protein tinggi, Anda tidak akan langsung memiliki tubuh besar dan kuat. Ya, Anda peru melatihnya.

Jika tubuh dilatih dengan beban, maka pikiran dan jiwa pun sama. Artinya Anda harus melatih diri menghadapi beban pikiran dan jiwa agar bisa berpikir dan berjiwa besar. Sama dengan melatih tubuh, Anda perlu melakukannya secara bertahap.

1. Anda bisa mulai melatih berpikir dan berjiwa besar dalam imajinasi terlebih dahulu. Melamun? Ya, sedikit mirip, tapi bukan melamun yang tidak-tidak. Bukan juga berangan-angan, namun melatih pikiran dan jiwa Anda dalam imajinasi. Lebih lengkapnya tentang teknik ini bisa Anda baca pada ebook dan audio Beautiful Mind Power.
2. Mulailah menjalani proyek, yang paling mudah ialah mulai berbisnis dengan resiko yang sedikit menantang. Kenapa harus “sedikit menantang”, karena tanpa tantangan ibarat tanpa beban. Kenapa harus sedikit? Ini adalah tahapan awal.
3. Tingkatkan tantangan Anda.
4. Terus lakukan, tidak ada akhirnya sampai akhir hayat.

Jadi, dalam prakteknya tidak ada yang disebut berpikir dan berjiwa besar sempurna. Anda akan selalu bisa meningkatkan berpikir dan berjiwa besar.
(sumber:motivasiislam)

25 Juni 2011

Hikmah dari Isra’ Mi’raj

Oleh: Hendratno

dakwatuna.com – Beberapa hari lagi kita akan melewati sebuah peristiwa sejarah yang sangat monumental. Momentum sejarah tersebut adalah peristiwa yang terjadi sekitar 14 abad Hijriyah yang lalu, yaitu peristiwa Isra’ Mi’raj. Pada saat itu Nabi Muhammad SAW diperjalankan oleh Allah dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsha di Al-Quds, lalu dilanjutkan dengan menembus lapisan langit tertinggi sampai batas yang tidak dapat dijangkau oleh ilmu semua makhluk, malaikat, manusia, dan jin. Semua itu ditempuh dalam sehari semalam. Peristiwa itu sekaligus sebagai mukjizat mengagumkan yang diterima Rasulullah SAW.

Permintaan kaum kafir Quraisy kepada Nabi SAW

Sebenarnya, sebelum peristiwa itu terjadi, orang-orang kafir Quraisy pernah meminta kepada Rasulullah untuk menunjukkan hal-hal yang aneh, karena mereka tidak percaya kalau Muhammad SAW itu adalah nabi. Permintaan-permintaan itu mereka lontarkan untuk membuktikan bahwa dirinya benar-benar seorang Nabi. Hal ini direkam oleh Allah SWT dalam Al Qur’an sebagai berikut:

“Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami, atau kamu mempunyai sebuah kebun korma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yang deras alirannya, atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, sebagaimana kamu katakan atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan muka dengan kami. Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas, atau kamu naik ke langit. Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang kami baca”. (QS. Bani Israil : 90 – 93)

Kalau kita jabarkan dari ayat di atas, mereka meminta hal-hal di bawah ini kepada Rasulullah:

Mereka meminta untuk memancarkan mata air dari bumi.
Mereka juga meminta sebuah kebun kurma dan anggur, dengan air mengalir di bawahnya. Padahal di sekitar situ sebagian besar padang pasir.
Mereka meminta untuk menjatuhkan langit.
Mereka juga meminta menghadirkan Allah beserta malaikat-malaikat-Nya untuk dihadapkan kepada mereka. Sungguh suatu permintaan yang lancang.
Mereka juga meminta sebuah rumah dari emas.
Yang terakhir, mereka meminta Nabi untuk naik ke langit tanpa membawa buku, lalu harus kembali dengan membawa sebuah buku (kitab) untuk mereka baca.

Permintaan mereka itu betul-betul “kebangetan”. Tetapi Rasulullah SAW menjawabnya dengan bijaksana, “Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?” (QS. Bani Israil: 93). Allah Yang Maha Suci tentu Maha Kuasa untuk melakukan semua itu, tetapi Rasulullah mengatakan bahwa dirinya hanyalah seorang manusia biasa yang diangkat menjadi seorang Rasul, sehingga tidak mungkin melakukan semua itu.

Kita bisa ambil pelajaran dari hal di atas. Mungkin sampai zaman kapan pun, kebenaran (baca: Islam) akan menghadapi hal-hal seperti itu. Orang yang membawa kebenaran akan selalu menghadapi permintaan-permintaan yang di luar kemampuan. Dan permintaan tersebut kebanyakan hanya sebagai “olok-olok”. Karena, kalaupun kita bisa memenuhi permintaan itu, mereka kebanyakan tetap tidak akan mendengar Islam ini. Hanya sedikit yang mau mendengarnya. Sebagaimana halnya Rasulullah setelah mengalami peristiwa Isra’ Mi’raj, tidak banyak yang mempercayai perjalanannya tersebut, bahkan ada yang mengatakan Nabi gila walaupun Nabi sudah memberikan bukti-bukti atas apa yang telah dia alami (Isra’ Mi’raj).

Peringatan Isra’ Mi’raj sebagai motivasi

Kalau kita baca sejarah kehidupan Rasulullah SAW (Sirah Nabawiyah), sebelum peristiwa itu terjadi, Rasulullah mengalami keadaan duka cita yang sangat mendalam. Beliau ditinggal oleh istrinya tercinta, Khadijah, yang setia menemani dan menghiburnya di kala orang lain masih mencemoohnya. Lalu beliau juga ditinggal oleh pamannya sendiri, Abu Thalib, yang (walaupun kafir) tetapi dia sangat melindungi aktivitas Nabi. Sehingga orang-orang kafir Quraisy semakin leluasa untuk melancarkan penyiksaannya kepada Nabi, sampai-sampai orang awam Quraisy pun berani melemparkan kotoran ke atas kepala Rasulullah SAW.

Dalam keadaan yang duka cita dan penuh dengan rintangan yang sangat berat itu, menambah perasaan Rasulullah semakin berat dalam mengemban risalah Ilahi. Lalu Allah “menghibur” Nabi dengan memperjalankan beliau, sampai kepada langit dan menemui Allah. Hingga kini, peristiwa ini seringkali diperingati oleh sebagian besar kaum muslimin dalam peringatan Isra’ Mi’raj. Pada dasarnya peringatan tersebut hanyalah untuk memotivasi dan penyemangat, bukan dalam rangka beribadah (ibadah dalam artian ibadah ritual khusus). Namun peringatan tersebut juga terdapat beberapa catatan. Apa saja itu? Mari kita ikuti beberapa hal di bawah ini.

Dalam Al Qur’an, dari sekian ribu ayat di dalamnya, hanya ada 4 ayat yang menjelaskan tentang Isra’ Mi’raj, yaitu QS. Bani Israil ayat 1, dan QS. An Najm ayat 13 sampai 15. Maksudnya, kebesaran Islam itu bukan terletak pada peristiwa Isra’ Mi’raj ini, tapi pada konsepnya, sistemnya, dan muatannya. Pada surat An Najm ayat 13-15 itu, menggambarkan bahwa Rasulullah menemui Jibril dalam bentuk aslinya di Sidratil Muntaha ketika Isra Mi’raj. Sebelumnya Rasulullah juga pernah menjumpai malaikat Jibril dalam bentuk asli ketika menerima ayat pertama (QS. Al Alaq: 1-5) dari Allah SWT, yaitu ketika di gua Hira.

Dan di antara 25 nabi, hanya 2 Nabi yang pernah berbicara langsung kepada Allah, yaitu Nabi Musa AS dan Nabi Muhammad SAW. Bagaimana dengan Nabi Adam AS, bukankah beliau juga pernah berdialog dengan Allah? Ya, tapi Nabi Adam ketika itu masih di Surga. Setelah diturunkan ke bumi, tidak lagi berdialog secara langsung. Nabi Musa berdialog dengan Allah secara langsung yaitu ketika di bukit Tursina (di bumi), sedangkan Nabi Muhammad di Sidratil Muntaha (di langit). Tetapi (sekali lagi), kebesaran Islam bukan di situ letaknya, namun di konsepnya, di muatannya. Oleh karena itulah, peristiwa Isra’ Mi’raj sendiri tidak perlu secara berlebihan diangkat-angkat. Peristiwa itu sendiri merupakan mukjizat imani, maksudnya adalah mukjizat yang hanya bisa diterima apabila kita beriman.

Meskipun hanya Nabi Muhammad yang telah diperjalankan pada malam harinya (Isra’ Mi’raj), tapi dia tetaplah manusia biasa, hamba Allah. Hal ini perlu ditegaskan, karena dua umat sebelum Islam (Yahudi dan Kristen), telah terjebak men-Tuhankan nabinya.

Mengapa Masjidil Aqsha?

Ada beberapa pertanyaan mengenai peristiwa Isra’ Mi’raj. Salah satunya, mengapa dalam peristiwa itu Rasul diperjalankan ke Masjidil Aqsha? Kenapa tidak langsung saja ke langit? Paling tidak ada beberapa hal hikmahnya, antara lain:

1. Bahwa Nabi Muhammad adalah satu-satunya Nabi dari golongan Ibrahim AS yang berasal dari Ismail AS, sedangkan Nabi lainnya adalah berasal dari Ishaq AS. Inilah yang menyebabkan Yahudi dan Kristen menolak Nabi Muhammad, karena mereka melihat asal usul keturunannya (nasab). Alasan mereka itu sangat tidak ilmiah, dan kalau memang benar, mereka berarti rasialis, karena melihat orang itu dari keturunannya. Hikmah lainnya adalah, bahwa Nabi Muhammad berdakwah di Mekah, sedangkan Nabi yang lain berdakwah di sekitar Palestina. Kalau dibiarkan saja, orang lain akan menuduh Muhammad SAW sebagai orang yang tidak ada hubungannya dengan “golongan” Ibrahim dan merupakan sempalan. Bagi kita sebagai muslim, tidaklah melihat orang itu dari asal usulnya, tapi dari ajarannya.

2. Hikmah berikutnya adalah, Allah dengan segala ilmu-Nya mengetahui bahwa Masjidil Aqsha adalah akan menjadi sumber sengketa sepanjang zaman setelah itu. Mungkin Allah ingin menjadikan tempat ini sebagai “pembangkit” ruhul jihad kaum muslimin. Kadangkala, kalau tiada lawan itu semangat jihad kaum muslimin “melemah” karena terlena, dan dengan adanya sengketa tersebut, semangat jihad kaum muslimin terus terjaga dan terbina.

3. Berikutnya, Allah ingin memperlihatkan sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya kepada Nabi SAW. Pada Al Qur’an surat An Najm ayat 12, terdapat kata “Yaro” dalam bahasa Arab yang artinya “menyaksikan langsung”. Berbeda dengan kata “Syahida”, yang berarti menyaksikan tapi tidak musti secara langsung. Allah memperlihatkan sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya itu secara langsung, karena pada saat itu dakwah Nabi sedang pada masa sulit, penuh duka cita. Oleh karena itulah pada peristiwa tersebut Nabi Muhammad juga dipertemukan dengan Nabi-nabi sebelumnya, agar Muhammad SAW juga bisa melihat bahwa Nabi yang sebelumnya pun mengalami masa-masa sulit, sehingga Nabi SAW bertambah motivasi dan semangatnya. Hal ini juga merupakan pelajaran bagi kita yang mengaku sebagai da’i, bahwa dalam kesulitan dakwah itu bukan berarti Allah tidak mendengar.

Perintah Shalat

Pada Isra’ Mi’raj, Allah SWT memberikan perintah shalat wajib. Dan shalat Subuh adalah shalat yang pertama kali diperintahkan. Karena peristiwa Isra’ Mi’raj sendiri terjadi pada saat malam hari. Subuhnya Rasulullah sudah tiba kembali di tempat semula. Mungkin ini juga hikmah bagi kita semua, karena shalat Subuh adalah shalat yang sulit untuk di laksanakan, di mana pada saat itu banyak manusia yang masih terlelap dalam tidurnya. Sebelum diperintahkannya shalat wajib 5 waktu ini, Rasulullah melaksanakan shalat sebagaimana Nabi Ibrahim.

Kita tidak hanya diperintahkan untuk mengerjakan shalat, tetapi juga menegakkan shalat. Shalat bukan segala-galanya, tapi segala-galanya berawal dari shalat, demikian kata seorang ustadz.

Demikianlah beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari peristiwa Isra’ Mi’raj. Semoga semakin menambah keimanan kita kepada Allah, kitab-Nya, Nabi-nabi-Nya, para malaikat-Nya, Hari Akhir, serta Qadha dan Qadar-Nya. []

11 Juni 2011

Serigala Tua


Alkisah ada seseorang yang sedang melintasi hutan dan melihat ada seekor serigala yang keempat kakinya lumpuh. Serigala itu hidup berdiam di mulut sebuah gua. Meski serigala itu lumpuh namun tubuhnya tetap kuat dan sehat. Orang ini lalu ingin tahu bagaimana serigala itu bisa mempertahankan hidupnya dengan keempat kaki yang lumpuh. Dari kejauhan ia memperhatikan serigala itu sepanjang hari.
Tiba-tiba muncul seekor harimau datang membawa rusa hasil buruannya. Harimau itu menyantap sepuasnya, dan meninggalkan sisa makanan bagi sang serigala. Kemudian, serigala itu memakan sisa-sisa santapan harimau itu.
Keesokan harinya, harimau itu datang lagi dengan membawa kijang hasil buruannya. Sama seperti kemarin, harimau itu menyantap kijang sepuasnya dan meninggalkan sisa bagi serigala. Maka serigala pun mendapatkan makanan yang cukup.
Lelaki ini tersenyum dan mengagumi betapa kebaikan Tuhan yang begitu besar. Dalam hatinya ia berkata, Tuhan tidak akan menyia-nyiakan makhluknya. Lebih lanjut ia mempunya rencana, "Kalau begitu, aku juga akan menganggur saja di rumah. Aku percaya sepenuhnya kepada Tuhan karena Tuhan akan mencukup segala kebutuhanku, sebagaimana yang Tuhan lakukan kepada serigala itu."
Lelaki itu pulang dan melakukan niatnya. Selama berhari-hari ia berdiam di rumah, tetapi tidak terjadi apa-apa. Malah perutnya semakin lapar. Ketika lelaki yang malang ini hampir mati, ia mendengar sebuah suara menggelegar dalam pendengarannya, "Hai engkau, orang yang sesat, bukalah matamu pada kebenaran! Ikutilah teladan harimau dan berhentilah meniru serigala yang lumpuh!"
==========================================
Sumber artikel, dari buku:
Sudarmono, Dr.(2010). Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 Kisah Sumber Inspirasi. Yogyakarta: Idea Press. Volume 3 . Hal. 590-591. ISBN 978-6028-686-402.

10 Juni 2011

4 Tipe Manusia Hadapi Tekanan Hidup


"Semua kesulitan sesungguhnya merupakan kesempatan bagi jiwa kita untuk tumbuh" (John Gray)
Pembaca, hidup memang tidak lepas dari berbagai tekanan. Lebih-lebih, hidup di alam modern ini yang menyuguhkan beragam risiko. Sampai seorang sosiolog Ulrich Beck menamai jaman kontemporer ini dengan masyarakat risiko (risk society). Alam modern menyuguhkan perubahan cepat dan tak jarang mengagetkan.
Nah, tekanan itu sesungguhnya membentuk watak, karakter, dan sekaligus menentukan bagaimana orang bereaksi di kemudian hari. Pembaca, pada kesempatan ini, saya akan memaparkan empat tipe orang dalam menghadapi berbagai tekanan tersebut. Mari kita bahas satu demi satu tipe manusia dalam menghadapi tekanan hidup ini.
Tipe pertama, tipe kayu rapuh. Sedikit tekanan saja membuat manusia ini patah arang. Orang macam ini kesehariannya kelihatan bagus. Tapi, rapuh sekali di dalam hatinya. Orang ini gampang sekali mengeluh pada saat kesulitan terjadi.
Sedikit kesulitan menjumpainya, orang ini langsung mengeluh, merasa tak berdaya, menangis, minta dikasihani atau minta bantuan. Orang ini perlu berlatih berpikiran positif dan berani menghadapi kenyataan hidup.
Majalah Time pernah menyajikan topik generasi kepompong (cacoon generation). Time mengambil contoh di Jepang, di mana banyak orang menjadi sangat lembek karena tidak terbiasa menghadapi kesulitan. Menghadapi orang macam ini, kadang kita harus lebih berani tega. Sesekali mereka perlu belajar dilatih menghadapi kesulitan. Posisikan kita sebagai pendamping mereka.
Tipe kedua, tipe lempeng besi. Orang tipe ini biasanya mampu bertahan dalam tekanan pada awalnya. Namun seperti layaknya besi, ketika situasi menekan itu semakin besar dan kompleks, ia mulai bengkok dan tidak stabil. Demikian juga orang-orang tipe ini. Mereka mampu menghadapi tekanan, tetapi tidak dalam kondisi berlarut-larut.
Tambahan tekanan sedikit saja, membuat mereka menyerah dan putus asa. Untungnya, orang tipe ini masih mau mencoba bertahan sebelum akhirnya menyerah. Tipe lempeng besi memang masih belum terlatih. Tapi, kalau mau berusaha, orang ini akan mampu membangun kesuksesan dalam hidupnya.
Tipe ketiga, tipe kapas. Tipe ini cukup lentur dalam menghadapi tekanan. Saat tekanan tiba, orang mampu bersikap fleksibel. Cobalah Anda menekan sebongkah kapas. Ia akan mengikuti tekanan yang terjadi. Ia mampu menyesuaikan saat terjadi tekanan. Tapi, setelah berlalu, dengan cepat ia bisa kembali ke keadaan semula. Ia bisa segera melupakan masa lalu dan mulai kembali ke titik awal untuk memulai lagi.
Tipe keempat, tipe manusia bola pingpong. Inilah tipe yang ideal dan terhebat. Jangan sekali-kali menyuguhkan tekanan pada orang-orang ini karena tekanan justru akan membuat mereka bekerja lebih giat, lebih termotivasi, dan lebih kreatif. Coba perhatikan bola pingpong. Saat ditekan, justru ia memantuk ke atas dengan lebih dahsyat. Saya teringat kisah hidup motivator dunia Anthony Robbins dalam salah satu biografinya.
Untuk memotivasi dirinya, ia sengaja membeli suatu bangunan mewah, sementara uangnya tidak memadai. Tapi, justru tekanan keuangan inilah yang membuat dirinya semakin kreatif dan tertantang mencapai tingkat finansial yang diharapkannya. Hal ini pernah terjadi dengan seorang kepala regional sales yang performance-nya bagus sekali.
Bangun network
Tetapi, hasilnya ini membuat atasannya tidak suka. Akibatnya, justru dengan sengaja atasannya yang kurang suka kepadanya memindahkannya ke daerah yang lebih parah kondisinya. Tetapi, bukannya mengeluh seperti rekan sebelumnya di daerah tersebut. Malahan, ia berusaha membangun netwok, mengubah cara kerja, dan membereskan organisasi. Di tahun kedua di daerah tersebut, justru tempatnya berhasil masuk dalam daerah tiga top sales.
Contoh lain adalah novelis dunia Fyodor Mikhailovich Dostoevsky. Pada musim dingin, ia meringkuk di dalam penjara dengan deraan angin dingin, lantai penuh kotoran seinci tebalnya, dan kerja paksa tiap hari. Ia mirip ikan herring dalam kaleng. Namun, Siberia yang beku tidak berhasil membungkam kreativitasnya.
Dari sanalah ia melahirkan karya-karya tulis besar, seperti The Double dan Notes of The Dead. Ia menjadi sastrawan dunia. Hal ini juga dialami Ho Chi Minh. Orang Vietnam yang biasa dipanggil Paman Ho ini harus meringkuk dalam penjara. Tapi, penjara tidaklah membuat dirinya patah arang. Ia berjuang dengan puisi-puisi yang ia tulis. A Comrade Paper Blanket menjadi buah karya kondangnya.
Nah, pembaca, itu hanya contoh kecil. Yang penting sekarang adalah Anda. Ketika Anda menghadapi kesulitan, seperti apakah diri Anda? Bagaimana reaksi Anda? Tidak menjadi persoalan di mana Anda saat ini. Tetapi, yang penting bergeraklah dari level tipe kayu rapuh ke tipe selanjutnya. Hingga akhirnya, bangun mental Anda hingga ke level bola pingpong. Saat itulah, kesulitan dan tantangan tidak lagi menjadi suatu yang mencemaskan untuk Anda. Sekuat itukah mental Anda?
==========================================
Sumber artikel, dari buku:
Sudarmono, Dr.(2010). Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 Kisah Sumber Inspirasi. Yogyakarta: Idea Press. Volume 3. Hal. 578-581. ISBN 978-6028-686-402.

07 Juni 2011

Anak Korban Perceraian, Bisa Alami Sulit Belajar

Perceraian yang dilakukan oleh orangtua pasti akan berdampak terhadap kehidupan anak-anaknya. Studi menemukan bahwa anak yang orangtuanya bercerai akan membuatnya kesulitan belajar dan bergaul.
Peneliti menemukan bahwa anak-anak yang orangtuanya bercerai akan berjuang lebih keras dalam belajar matematika dan bergaul. Hal ini kemungkinan karena dipengaruhi oleh rasa kecemasan, kesepian dan sedih yang dialaminya.

Studi yang dilakukan selama 5 tahun ini membandingkan perkembangan emosi dan akademik dari anak-anak yang orangtuanya bercerai dan yang tidak. Sebanyak 3.585 anak-anak terlibat dalam studi ini yang usianya sekitar 4 tahun.

"Anak-anak akan mengalami kemunduran dalam nilai matematika dan masalah pada keahlian interpersonalnya, mereka lebih rentan terhadap perasaan gelisah, kesepian, harga diri yang rendah dan kesedihan," ujar ketua studi Hyun Sik Kim dari University of Wisconsin-Madison, seperti dikutip dari Dailymail, Jumat (3/6/2011).

Hyun Sik Kim menuturkan masalah tersebut biasanya akan muncul begitu proses perceraian dimulai. Hasil penelitian ini telah dilaporkan dalam American Sociological Review.

Peneliti mengungkapkan kemunduran dan masalah yang timbul akan lebih besar ketika anak-anak mengalami stres akibat melihat orangtuanya saling menyalahkan atau berdebat satu sama lain saat bercerai.

"Kondisi kehidupan tidak stabil yang dialami oleh anak-anak yang orangtuanya bercerai juga bisa mengganggu hubungan sosial si anak," ungkapnya.

Hasil studi ini semakin menambahkan bukti yang menunjukkan dampak buruk bagi anak-anak jika orangtuanya bercerai, terlebih jika perceraian tersebut dilakukan secara tidak baik. Studi di Inggris menunjukkan anak-anak dari perceraian 5 kali lebih besar berisiko menderita masalah mental. *
Sumber : lpt/ir (hidayatullah)

05 Juni 2011

Anakku Bertanya tentang Cermin


Oleh: Christian Atanila

dakwatuna.com - Zahra, nama anakku. Ya, Zahra Ainun Fii Jannati. Seorang wanita yang sedang tumbuh. Kini ia sudah duduk di kelas 4 SD. Sudah banyak yang ia pertanyakan tentang segala hal yang ada di sekitarnya. Mulai dari pertanyaan yang mendasar dan pertanyaan-pertanyaan yang menurutku konyol hingga aku sulit untuk menjawab semua itu.



Seperti di hari itu, anakku bertanya di saat aku sedang bertajarrud di depan cermin riasku. Ia bertanya dengan polos sambil menggerakkan kedua lengannya bergantian, “Ummi, kenapa sih kaca itu membalikkan tangan Zahra padahal ‘kan Zahra gerakkin tangan kiri, kok di cermin malah tangan kanan?” Kaget kudengar pertanyaan itu dari anak berumur kurang dari 10 tahun.

“Itu namanya cermin sayang. Bukan kaca biasa. Dia bisa memantulkan bagian tubuh kita yang masuk ke cermin. Jadi kalau kamu gerakkin kepala kamu ke kanan, di cermin terlihat berlawanan arah. Makanya tadi kamu lihat tangan kanan di cermin padahal kamu gerakkin tangan kirimu,” jawabku dengan susah payah dan berharap anakku mengerti apa yang kujelaskan.

“Tapi kenapa bisa begitu? Memang cermin dibuatnya beda ya sama kaca??” tanya anakku kembali ingin tahu.

“Bahannya sama sayang. Tapi ada yang beda antara cermin dengan kaca yang ada di jendela. Kalau kaca di jendela itu bening di bagian depan dan belakang. Tapi kalau cermin, di bagian belakangnya dilapisi penutup agar tidak bisa tembus cahaya. Contohnya seperti ini…,” jelasku sambil kuperlihatkan bagian belakang dari cermin hiasku.

“Nah, sekarang coba kamu lihat wajah kamu di cermin. Cantik tidak wajah anak ummi?” candaku.

“Hmm… coba lihat mi. Cantik dong kan anak ummi,” jawabnya sambil mencium pipi kananku lalu berlari meninggalkanku.

“Subhanallah, ternyata aku telah memiliki anak yang semakin tumbuh dewasa hingga dengan melihatnya saja sudah dapat membuatku berpikir banyak hal,” bisikku dalam hati.

“Cermin ini telah mengingatkanku akan umurku. Cermin ini juga mengingatkanku tentang bagaimana hidup sederhana dan tidak berlebihan. Cermin ini mengajarkanku untuk tidak mudah menyalahkan orang lain dan menganggap diri lebih baik dari yang lain. Ya, cermin ini memberiku pelajaran berharga di pagi ini,” pikirku.

“Alhamdulillahilladzi sawwa kholqi fa’adalahu wa karomahu shurota wajhi fa ahsanahaa waja’alani minal muslimin. Segala puji bagi Allah yang menyempurnakan kejadianku dan memperindah serta memuliakan kejadianku dan memperindah serta memuliakan rupaku lalu membaguskannya dan memasukkan aku ke dalam bagian kaum muslimin. Amin..” doaku dalam hati. Tak terasa air mata telah membasahi pipiku.

Kejadian di pagi itu telah mengingatkanku pada-Nya. Sungguh di hari itu aku merasa sangat bersyukur telah dikaruniakan seorang anak yang pintar dan dapat memberikan tadzkirah bagiku agar senantiasa mengingat-Mu. Hari itu anakku hanya bertanya tentang cermin, lantas aku teringat pada kekuasaan-Mu ya Allah.

Ya, dimana cermin itu mengingatkan aku akan kematian yang pasti datang menghampiri. Kulihat wajahku yang semakin menua di cermin. Kupegang bagian pipi yang dulu halus kini mulai agak mengerut di bagian tertentu. Mataku pun sudah tidak dapat melihat jauh dan tulisan yang kecil, padahal dahulu mataku ini normal dan dapat membaca tulisan yang kecil di koran. Namun, kini semua itu tak ada lagi pada diriku. Sedikit demi sedikit nikmat itu telah kembali kepada pemilik-Nya. Nikmat itu hanya sebentar mampir di tubuhku lalu ia pergi tak kembali.

Cermin itu juga mengajarkanku untuk hidup sederhana. Solekan yang berlebihan jika keluar rumah bisa kuhindari saat ku lirik di cermin. Perhiasan yang mungkin ingin kupamerkan di hadapan orang banyak juga kembali kulepas karena aku tahu tidak akan mungkin ada yang melihatnya di balik jilbab yang kukenakan ini. Kecuali perhiasan ini mempercantikku di hadapan suamiku saja. Cermin ini begitu objektif memberikan penilaian padaku. Sehingga aku kini berusaha untuk hidup dalam kesederhanaan yang selaras dengan rezeki yang Allah berikan pada kami.

Tak sampai di situ, ternyata cermin mengingatkanku akan satu hal yang sangat penting hari itu. Ya, aku ingat untuk tidak berpikir bahwa apa-apa yang kukatakan dan lakukan adalah yang paling baik dan benar. Ketika wajah ini terlihat di cermin, aku semakin sadar bahwa tidak ada yang dapat aku sombongkan. Wajah ini Allah ciptakan dengan bahan yang sama dengan orang lain, lantas mengapa aku menganggap diriku superior. Padahal di balik wajah ini aku menyimpan banyak sekali aib keburukan yang tidak diketahui oleh orang lain. Bisa saja dengan mudah Allah buka di hadapan orang banyak suatu saat nanti. Sungguh tak ada kebenaran di dalam kesombongan.

24 April 2011

“Tanda Tanya” dan Konsep Toleransi dalam Islam

Oleh: Shohib Khoiri, Lc

Produktif, begitu banyak orang sering menyebatkan kepada sutradara muda bernama Hanung Bramantyo berkat karya-karyanya, terutama dalam dunia perfilman. Film Ayat-ayat Cinta mungkin film religius pertama garapannya. Setelah itu muncul film-film lainnya yang bertemakan agama, di antaranya adalah Perempuan Berkalung Sorban (PBS) yang tidak lepas kritikan tajam dari tokoh-tokoh agama karena dianggap mengandung unsur pelecehan terhadap lembaga pesantren.

Enam Kiat Merajut Benang Ukhuwah

PERJUANGAN Islam tidak akan tegak tanpa adanya ukhuwah islamiyah, begitu istilah yang sering kita dengar. Sayangnya, menjadikan persaudaraan dalam Islam dan iman sebagai dasar bagi aktifitas perjuangan untuk menegakkan agama Allah di muka bumi bukan sesuatu yang mudah, seolah membalik telapak tangan.
Yang banyak terjadi adalah sebaliknya. Perpecahan di kalangan umat yang disebabkan pada hal-hal tidak subtansial.

17 April 2011

Kontribusi dan Kaderisasi Struktural

Oleh : Cahyadi Tjakariawan
Apa makna menjadi pengurus organisasi dakwah bagi para kader ? Tentu sangat banyak ‎maknanya, namun saya mengajak anda melihat dari dua aspek ini saja : lahan kontribusi dan lahan ‎kaderisasi. Dua makna penting yang harus menjadi cara pandang kita dalam kehidupan ‎berstruktur atau berorganisasi dakwah.‎
Pertama adalah lahan kontribusi. Organisasi dakwah telah mendidik dan menyiapkan banyak ‎kader dengan beragam potensi dan keahlian. Semua potensi dan semua keahlian yang dimiliki ‎para kader sangat bermanfaat bagi organisasi dalam mengelola semua aktivitas dan programnya ‎untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Skull Belt Buckles