Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan

31 Desember 2011

Politik Ijazah Rusak Pendidikan di Indonesia


REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR - Politik kepegawaian di Indonesia yang masih menjadikan ijazah sebagai tolak ukur kapabilitas dan kredibilitas seseorang turut berperan merusak iklim akademis di perguruan tinggi. Hal ini karena Ijazah hanya dijadikan alat untuk meningkatkan posisi jabatan seseorang di sebuah instansi.

"Ijazah untuk mendapatkan jabatan telah merusak dunia akademis kita," ujar Mahfud MD.

Saat ini banyak sekali lembaga akademisi setingkat universitas yang menjadikan ijazah sebagai proyek bisnis. Ijazah seringkali didapat tanpa mekanisme akademik yang semestinya. "Banyak sekali lembaga pendidikan yang hanya bisa mengeluarkan ijazah tanpa bisa mempertanggung-jawabkannya secara moral dan akademis," ujar Ketua Mahkamah Konstitusi ini.

Menurut Mahfud, pertanggungjawaban gelar akademis melalui ujian terbuka merupakan tradisi yang baik dan patut dipertahankan. Hal ini karena ujian terbuka bisa membuktikan seberapa dalam pemahaman seorang calon peraih gelar dalam menguasai permasalahan di bidang akademis yang dipilih.

05 Juli 2011

Mensos : Anggaran Penyandang Sosial Belum Ideal


Lembang, Jawa Barat (ANTARA) - Menteri Sosial RI Salim Segaf Aljufri mengatakan anggaran untuk mengatasi penyandang sosial sebesar Rp4,1 trilun masih jauh dari ideal sehingga perlu peningkatan.

"Anggaran yang dialokasikan untuk Kementerian Sosial Rp 4,1 triliun. Sedangkan empat persen diantaranya dialokasikan untuk mengatasi anak-anak terlantar. Idealnya, dana yang diberikan kepada mereka bisa mencapai 20 persen. Artinya, setiap anak bisa mendapatkan Rp 300 ribu," kata Salim Segap Aljufri kepada wartawan usai melakukan kunjungan kerja di Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Selasa.

Berdasarkan data yang dimilikinya, jumlah wanita rawan sosial ekonomi mencapai 1,2 juta, anak terlantar 5,4 jiwa, orang yang hidup di bawah garis kemiskinan sebanyak 3,1 juta jiwa. Jumlah tersebut, berpeluang besar untuk mendapatkan perhatian pemerintah sangat tinggi.

Dibutuhkan adanya soliditas dan kebersamaan semua pihak untuk mengatasi berbagai penyandang sosial, katanya.

"Jumlah penyandang sosial setiap tahunnya akan bisa berkurang jika ada partisipasi dari semua pihak. Semua harus diselesaikan dengan perencanaan matang. Pembangunan jangan sampai hanya dirasakan oleh segelintir orang saja," kata menteri asal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu.

Lebih jauh dirinya mengatakan, seandainya APBN mencapai Rp 3.000 triliun dan tak berhutang pada negara manapun, maka pelayanan terhadap semua penyakit dan penyandang sosial akan dilakukan jauh lebih mudah. Meski begitu, bangsa Indonesia tidak bisa hanya berhenti meratapi atas nasib yang menimpanya.

"Salah satu peran yang tidak ketinggalan pentingnya adalah corporate social responsibility (CSR) dari tiap perusahaan dan dedikasi seorang ibu. Anggaran yang minim bisa diatasi dengan adanya CSR perusahaan. Sedangkan anak yang terlantar maupun jalanan bisa dicegah jika ada kasih sayang tulus dari seorang perempuan," ujarnya.

Menurut dia banyak permasalahan sosial saat ini lantaran warga masyarakat kurang mengaplikasikan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.

Padahal dalam ajaran agama setiap orang diwajibkan untuk saling membantu dan tidak membiarkan sesamanya hidup dalam kelaparan dan ketidakpastian masa depan, katanya.

"Yang terjadi setiap orang dari kita sibuk memikirkan diri sendiri. Isilah kemerdekaan dengan sebaik-baiknya. Kita bisa bangkit jika ada kebersamaan dari semua pihak," katanya.

17 Juni 2011

Ternyata Anak Muda Perkotaan Lebih Islami dari Anak Muda Pedesaan


Anak muda muslim di Indonesia ternyata lebih mengutamakan identitas keislaman mereka ketimbang identitas mereka sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

Hal itu terungkap Selasa (14/6) dalam konferensi pers hasil survei Tata Nilai, Impian, Cita-cita Pemuda Muslim di Asia Tenggara yang diadakan Goethe-Institut, The Friedrich Naumann Foundation for Freedom, Lembaga Survei Indonesia dan Merdeka Center for Opinion Research Malaysia.

Di Indonesia, survei ini diselenggarakan pada 18-26 November 2010 dengan 1496 responden berusia 15-25 tahun, dan berasal dari 33 provinsi. Hasilnya, 47,5 persen kaum muda Indonesia memandang diri mereka pertama-tama sebagai orang muslim. Sedangkan yang menganggap mereka pertama-tama orang Indonesia sebanyak 40,8 persen.

Yang menarik, anak-anak muda yang mengutamakan identitas keislamannya ini sebagian besar tinggal di perkotaan. Mereka mapan secara ekonomi dan berpendidikan sampai tingkat universitas. Sementara pemuda desa dengan status ekonomi lebih rendah justru mendominasi kelompok responden yang lebih merasa sebagai orang Indonesia lebih dulu daripada muslim.

Direktur Urusan Publik LSI Burhanuddin Muhtadi menjelaskan, anak muda kota lebih mementingkan identitas keagamaan karena bagi mereka agama adalah pegangan penting di saat situasi ekonomi dan politik mengalami keguncangan.

Memiliki akses yang lebih baik ke pendidikan dan media justru membuat pemuda kota memiliki tingkat ketidakamanan (insecurity) yang lebih tinggi dari pemuda desa, kata Burhanuddin. Sebab mereka lebih terbiasa berkompetisi dan memiliki akses informasi yang lebih komplet atas situasi-situasi politik dan ekonomi untuk menganalisis masa depan.

Agama pun kemudian menjadi aset penting kehidupan sehari-hari dalam mengatasi keresahan.

Di samping itu, Burhanuddin juga menengarai hasil survei itu menampakkan kegagalan sistem pendidikan. Perilaku orang kota yang lebih merasa sebagai orang Islam, kata Burhanuddin, berkaitan dengan sistem pendidikan yang tidak mampu menguatkan sentimen kebangsaan.

Semakin lama seseorang menuntut ilmu, semakin terpapar ia pada pendidikan agama yang mendoktrin. Kurikulum sekolah tidak cukup kuat mengajarkan identitas kebangsaan.

Pendidikan agama yang mendoktrin itu juga menghasilkan pemikiran konservatif di antara anak-anak muda Indonesia. Mereka menolak seks sebelum menikah (96,2 persen), mengonsumsi alkohol (88,7 persen), atau menjauhi bahan psikotropika halus/mariyuana (99,2 persen).

Sekitar 90,1 persen anak muda juga mengaku tidak mau menikah dengan orang beda agama. Dari 9 persen yang menjawab bersedia menikah beda agama, 69 persennya menyatakan syarat bahwa si pasangan harus pindah ke agamanya.

Meski begitu, pemikiran konservatif ini tidak sebanding dengan aktivitas keagamaan mereka. Hanya 28,7 persen responden yang mengaku selalu salat lima waktu dan hanya 10,8 persen yang membaca atau memahami Quran.

Primadona aktivitas beragama mereka adalah puasa di bulan Ramadan. Sekitar 59,6 persen responden mengaku selalu melaksanakan puasa Ramadan. “Mungkin karena setahun sekali. Dan karena pengaruh TV di bulan Ramadan itu suasananya kayak di surga,” kata Burhan berkelakar.

Yang juga menarik, sekitar 85 persen anak muda tidak setuju dengan praktik poligami. Dan ada sekitar 41 persen yang menganggap pendidikan seks di sekolah bukan sebuah tabu.

Untuk isu jilbab, “hanya” 38 persen responden menganggap jilbab wajib buat perempuan. Sekitar 21 persen menyatakan, pemakaian jilbab tergantung pada pribadi masing-masing, apakah hendak memakainya atau tidak.

Lalu, selain sekolah atau kursus agama di bulan Ramadan, dari mana anak-anak muda Indonesia mendapatkan pendidikan agama mereka yang mendoktrin? Ternyata, menurut Burhan, televisi adalah penyumbang terbesar porsi sumber informasi keagamaan. Posisi kedua ditempati masjid, baru keluarga.

Yang mengkhawatirkan adalah bagaimana “serangan” pendidikan agama yang mendoktrin ini kemudian berpengaruh pada pluralisme dan toleransi terhadap agama lain. Sayangnya, pertanyaan-pertanyaan dari survei ini belum mencakup kedua isu tersebut. “Itu masukan yang bagus. Butuh survei lanjutan untuk mengetahui pengaruh pandangan ini terhadap toleransi dan pluralisme,” kata Burhan.
yahoo.id

16 Juni 2011

Sejumlah Tokoh Nasional Membahas"Mencegah Kebangkrutan Negara"


Sejumlah tokoh nasional melakukan silaturahmi di PP Muhammadiyah untuk membahas mengenai "Mencegah Kebangkrutan Negara", baik dari permasalahan penegakan hukum, ekonomi maupun sosial.

Tokoh nasional yang hadir di acara silaturahmi pada Kamis, antara lain, mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, Ketua Umum Partai Hanura Wiranto, Ketua Nasional Demokrat Surya Paloh, Ketua MPR Taufiq Kiemas, mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Azyumardi Azra, mantan Rektor UGM Sofyan Effendi, Rizal Ramli, Bambang Sudibyo. Selain itu, budayawan Taufik Ismail, Marwah Daud Ibrahim (ICMI), Koordinator Gerakan Indonesia Bersih Adhie Massardi, Kwik Kian Gie, dan lainnya.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, mengatakan silaturahmi para tokoh nasional ini untuk mencari solusi yang terbaik mencegah kebangkrutan negara yang mengancam bangsa Indonesia. Kebangkrutan negara, kata dia, dilihat dari kasus korupsi yang terus merajalela, masalah ekonomi, sosial dan lainnya.

Sementara itu, mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Azyumardi Azra, mengatakan saat ini indeks korupsi di Indonesia mengalami peningkatan yang cukup signifikan. "Ini menunjukkan kegagalan penegakan hukum dalam pemberantasan korupsi. Meski sudah ada UU dan lembaga penegak hukum seperti KPK, namun penegakan hukum masih belum berjalan dengan baik," ucapnya.

Ia menambahkan, bila Indonesia mau "survive" maka harus ada penegakan hukum. Kalau tidak ada penegakan hukum maka akan terjadi pelanggaran hukum, seperti pelanggaran HAM, ekonomi dan sosial. (Ant/ARI)

Gerhana yang terjadi dini hari tadi termasuk istimewa. Yang terlama di tahun ini.


VIVAnews - Kejadian menarik di langit terjadi pada Kamis 16 Juni 2011 dini hari tadi: gerhana bulan total. Fenomena ini bisa disaksikan di seluruh Indonesia. Di Jakarta misalnya, langit yang cerah membuat gerhana bulan terlihat jelas, dengan mata telanjang.

Gerhana yang terjadi dini hari tadi termasuk istimewa. Yang terlama di tahun ini. Sebelumnya, profesor riset bidang astronomi dan astrofisika dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, Thomas Djamaluddin mengatakan, total durasi gerhana, dari mulai gerhana bulan sebagian awal sampai akhir, diperkirakan berlangsung selama 3 jam 20 menit, yakni dari pukul 01.22 WIB - 05.02 WIB.

Durasi itu, Djamal menambahkan, lebih panjang dari gerhana bulan total yang juga akan terjadi pada 10 Desember 2011 mendatang.

Selain bisa menikmati fenomena alam menarik, gerhana bulan adalah kesempatan untuk mengetahui kualitas lapisan atmosfer bagian atas (lapisan stratosfer yang berada di ketinggian di atas 5.000 meter dari permukaan bumi) yang mungkin selama ini 'dicemari' oleh akumulasi debu-debu vulkanik.

Pasalnya, debu-debu vulkanik yang sampai di lapisan atmosfer bagian atas, bisa bertahan hingga bertahun-tahun. Contohnya, letusan Gunung Pinatubo yang terjadi pada 1991 dan memakan ratusan korban jiwa, debu vulkaniknya bertahan hingga dua tahun.

Menurut Djamal, kualitas atmosfer itu bisa diukur dengan melihat kecerahan warna garis antara bayangan bumi dengan cahaya bulan. Bila warna cahaya bulan terlihat cerah dan tegas, maka kualitas atmosfer lebih baik. Tapi bila warnanya lebih gelap, maka kualitas atmosfer lebih buruk.

Djamal memisalkan, setelah letusan Gunung Tambora pada 1815 yang menewaskan sekitar 100 ribu jiwa, atmosfer lapisan bumi saat itu tertutup debu vulkanik sampai beberapa waktu sehingga saat gerhana bulan, garis antara bayangan bumi dengan cahaya bulan berwarna gelap dan baur.

Tak hanya Indonesia, sejumlah negara pun bisa menikmati pemandangan menakjubkan ini. Di beberapa negara, bulan akan terlihat berwarna merah darah.

06 Mei 2011

Forum Pemuda ASEAN Inginkan Peningkatan Kualitas Pendidikan


Jakarta-Sauyunan Komunika- Forum Pemuda ASEAN menginginkan agar ada upaya nyata dari pemimpin negara-negara ASEAN untuk meningkatkan kualitas pendidikan di negara-negara kawasan dan memberikan kesempatan yang sama bagi kelompok yang terpinggirkan.

Sukma Widyanti dari Pergerakan Indonesia yang merupakan bagian dari Forum Pemuda ASEAN, di Jakarta, Rabu, mengatakan ASEAN perlu membentuk sebuah perjanjian tentang pendidikan yang mengatur pengeluaran nasional dan lokal setidaknya 12 persen dari produk domestik bruto untuk pendidikan dasar dan tersier.

"Ini untuk memfasilitasi akses untuk pendidikan, untuk memberikan gaji bagi staf sekolah berdasarkan standar hidup, meningkatkan aksesibilitas dalam hal biaya dan fasilitas, dan mengalokasikan anggaran untuk reformasi kurikulum," katanya ketika ditemui setelah workshop Konferensi Masyarakat Sipil (ACSC)/Forum Rakyat ASEAN (APF) 2011.

Selain itu, ujarnya, Forum Pemuda ASEAN menyerukan pada pemimpin ASEAN untuk fokus pada kebijakan untuk memastikan semua segmen masyarakat memperoleh pendidikan, khususnya kelompok yang kurang beruntung dan minoritas.

Pemimpin ASEAN juga didesak untuk memperkuat kebijakan untuk menjamin kualitas guru khususnya di daerah pedesaan dan terpencil, dengan meningkatkan keterampilan pembelajaran dan manajemen kelas melalui program pembangunan kapasitas dan meningkatkan waktu penelitian serta studi lebih lanjut.

"Kami mendesak ASEAN untuk memajukan kebijakan yang akan menumbuhkan dan memperkuat akses penuh terhadap kualitas pendidikan berbasis masyarakat," katanya.

Sementara itu, sebelumnya Forum Pemuda ASEAN telah mengadakan pertemuan pada 1-2 Mei untuk membahas keterlibatan pemuda di tingkat lokal, nasional, dan regional.

Forum Pemuda ASEAN menyerukan agar ASEAN berkomitmen mewujudkan perbaikan dan kemajuan dalam kehidupan masyarakat di ASEAN.

"Kita ingat bahwa masyarakat sipil ASEAN merupakan tokoh penting dalam membantu ASEAN untuk mencapai mandatnya, komitmen dan tanggung jawab kepada rakyatnya," kata Sukma.(*)(ANTARANews)
(T.H017/A033)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Skull Belt Buckles