07 Juni 2011

Bupati Cianjur ucapkan terimakasih kepada para Camat Kab. Cianjur

Bupati Cianjur Drs. H. Tjetjep Muchtar Soleh, MM.,belum lama ini telah menghadiri silaturahmi bersama para Camat se- Kabupaten Cianjur,bertempat di Rumah Makan Ikan bakar Cianjur. Kegiatan seperti ini dimaksudkan sebagai wahana untuk mempererat tali persaudaraan diantara keluarga besar pemerintahan khususnya para Camat.

Bupati Cianjur Drs. H. Tjetjep Muchtar Soleh, MM mengucapkan terimakasihnya kepada para camat , bahwa keberhasilan Pemilukada tahun 2011 di Kabupaten Cianjur tidak terlepas dari peran serta para camat di wilayahnya terutama masalah keamanan.

Menurutnya, pelayanan terhadap masyarakat harus semakin terus ditingkatkan lagi untuk memberikan kemanfaatan bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pembangunan. Pelayanan yang optimal seyogyanya disertai dengan kerja keras, keramahan, dan sabar dalam menghadapi persoalan- persoalan yang ada di masyarakat yang harus di tindak lanjuti dengan baik.

Silaturahmi ini juga untuk informasi, serta mengevaluasi proses pemilukada yang berjalan lancar dan tidak terjadi hal-hal anarki, hal ini menunjukan akan tingkat kesadaran atau pemahaman tentang demokrasi di Kabupaten Cianjur sudah tinggi. Dengan terpilihnya Bupati dan Wakil Bupati yang baru tentunya harus mampu memberikan warna baru, semangat baru untuk pada perubahan pembangunan yang lebih baik dari sebelumnya dan tentunya bagi camat yang berprestasi diharapkan naik ke ajang yang lebih layak dengan posisinya.

Bupati Cianjur Drs. H. Tjetjep Muchtar Soleh, MM berharap kinerja pelayanan kepada masyarakat harus semakain ditingkatkan, satukan visi dan misi seiring dan sejalan dengan cita-cita pemerintah kabupaten cianjur untuk mewujudkan masyarakat yang lebih sejahtera dan lebih berakhlakul karimah.(wn/hms)

Anak Korban Perceraian, Bisa Alami Sulit Belajar

Perceraian yang dilakukan oleh orangtua pasti akan berdampak terhadap kehidupan anak-anaknya. Studi menemukan bahwa anak yang orangtuanya bercerai akan membuatnya kesulitan belajar dan bergaul.
Peneliti menemukan bahwa anak-anak yang orangtuanya bercerai akan berjuang lebih keras dalam belajar matematika dan bergaul. Hal ini kemungkinan karena dipengaruhi oleh rasa kecemasan, kesepian dan sedih yang dialaminya.

Studi yang dilakukan selama 5 tahun ini membandingkan perkembangan emosi dan akademik dari anak-anak yang orangtuanya bercerai dan yang tidak. Sebanyak 3.585 anak-anak terlibat dalam studi ini yang usianya sekitar 4 tahun.

"Anak-anak akan mengalami kemunduran dalam nilai matematika dan masalah pada keahlian interpersonalnya, mereka lebih rentan terhadap perasaan gelisah, kesepian, harga diri yang rendah dan kesedihan," ujar ketua studi Hyun Sik Kim dari University of Wisconsin-Madison, seperti dikutip dari Dailymail, Jumat (3/6/2011).

Hyun Sik Kim menuturkan masalah tersebut biasanya akan muncul begitu proses perceraian dimulai. Hasil penelitian ini telah dilaporkan dalam American Sociological Review.

Peneliti mengungkapkan kemunduran dan masalah yang timbul akan lebih besar ketika anak-anak mengalami stres akibat melihat orangtuanya saling menyalahkan atau berdebat satu sama lain saat bercerai.

"Kondisi kehidupan tidak stabil yang dialami oleh anak-anak yang orangtuanya bercerai juga bisa mengganggu hubungan sosial si anak," ungkapnya.

Hasil studi ini semakin menambahkan bukti yang menunjukkan dampak buruk bagi anak-anak jika orangtuanya bercerai, terlebih jika perceraian tersebut dilakukan secara tidak baik. Studi di Inggris menunjukkan anak-anak dari perceraian 5 kali lebih besar berisiko menderita masalah mental. *
Sumber : lpt/ir (hidayatullah)

05 Juni 2011

Anakku Bertanya tentang Cermin


Oleh: Christian Atanila

dakwatuna.com - Zahra, nama anakku. Ya, Zahra Ainun Fii Jannati. Seorang wanita yang sedang tumbuh. Kini ia sudah duduk di kelas 4 SD. Sudah banyak yang ia pertanyakan tentang segala hal yang ada di sekitarnya. Mulai dari pertanyaan yang mendasar dan pertanyaan-pertanyaan yang menurutku konyol hingga aku sulit untuk menjawab semua itu.



Seperti di hari itu, anakku bertanya di saat aku sedang bertajarrud di depan cermin riasku. Ia bertanya dengan polos sambil menggerakkan kedua lengannya bergantian, “Ummi, kenapa sih kaca itu membalikkan tangan Zahra padahal ‘kan Zahra gerakkin tangan kiri, kok di cermin malah tangan kanan?” Kaget kudengar pertanyaan itu dari anak berumur kurang dari 10 tahun.

“Itu namanya cermin sayang. Bukan kaca biasa. Dia bisa memantulkan bagian tubuh kita yang masuk ke cermin. Jadi kalau kamu gerakkin kepala kamu ke kanan, di cermin terlihat berlawanan arah. Makanya tadi kamu lihat tangan kanan di cermin padahal kamu gerakkin tangan kirimu,” jawabku dengan susah payah dan berharap anakku mengerti apa yang kujelaskan.

“Tapi kenapa bisa begitu? Memang cermin dibuatnya beda ya sama kaca??” tanya anakku kembali ingin tahu.

“Bahannya sama sayang. Tapi ada yang beda antara cermin dengan kaca yang ada di jendela. Kalau kaca di jendela itu bening di bagian depan dan belakang. Tapi kalau cermin, di bagian belakangnya dilapisi penutup agar tidak bisa tembus cahaya. Contohnya seperti ini…,” jelasku sambil kuperlihatkan bagian belakang dari cermin hiasku.

“Nah, sekarang coba kamu lihat wajah kamu di cermin. Cantik tidak wajah anak ummi?” candaku.

“Hmm… coba lihat mi. Cantik dong kan anak ummi,” jawabnya sambil mencium pipi kananku lalu berlari meninggalkanku.

“Subhanallah, ternyata aku telah memiliki anak yang semakin tumbuh dewasa hingga dengan melihatnya saja sudah dapat membuatku berpikir banyak hal,” bisikku dalam hati.

“Cermin ini telah mengingatkanku akan umurku. Cermin ini juga mengingatkanku tentang bagaimana hidup sederhana dan tidak berlebihan. Cermin ini mengajarkanku untuk tidak mudah menyalahkan orang lain dan menganggap diri lebih baik dari yang lain. Ya, cermin ini memberiku pelajaran berharga di pagi ini,” pikirku.

“Alhamdulillahilladzi sawwa kholqi fa’adalahu wa karomahu shurota wajhi fa ahsanahaa waja’alani minal muslimin. Segala puji bagi Allah yang menyempurnakan kejadianku dan memperindah serta memuliakan kejadianku dan memperindah serta memuliakan rupaku lalu membaguskannya dan memasukkan aku ke dalam bagian kaum muslimin. Amin..” doaku dalam hati. Tak terasa air mata telah membasahi pipiku.

Kejadian di pagi itu telah mengingatkanku pada-Nya. Sungguh di hari itu aku merasa sangat bersyukur telah dikaruniakan seorang anak yang pintar dan dapat memberikan tadzkirah bagiku agar senantiasa mengingat-Mu. Hari itu anakku hanya bertanya tentang cermin, lantas aku teringat pada kekuasaan-Mu ya Allah.

Ya, dimana cermin itu mengingatkan aku akan kematian yang pasti datang menghampiri. Kulihat wajahku yang semakin menua di cermin. Kupegang bagian pipi yang dulu halus kini mulai agak mengerut di bagian tertentu. Mataku pun sudah tidak dapat melihat jauh dan tulisan yang kecil, padahal dahulu mataku ini normal dan dapat membaca tulisan yang kecil di koran. Namun, kini semua itu tak ada lagi pada diriku. Sedikit demi sedikit nikmat itu telah kembali kepada pemilik-Nya. Nikmat itu hanya sebentar mampir di tubuhku lalu ia pergi tak kembali.

Cermin itu juga mengajarkanku untuk hidup sederhana. Solekan yang berlebihan jika keluar rumah bisa kuhindari saat ku lirik di cermin. Perhiasan yang mungkin ingin kupamerkan di hadapan orang banyak juga kembali kulepas karena aku tahu tidak akan mungkin ada yang melihatnya di balik jilbab yang kukenakan ini. Kecuali perhiasan ini mempercantikku di hadapan suamiku saja. Cermin ini begitu objektif memberikan penilaian padaku. Sehingga aku kini berusaha untuk hidup dalam kesederhanaan yang selaras dengan rezeki yang Allah berikan pada kami.

Tak sampai di situ, ternyata cermin mengingatkanku akan satu hal yang sangat penting hari itu. Ya, aku ingat untuk tidak berpikir bahwa apa-apa yang kukatakan dan lakukan adalah yang paling baik dan benar. Ketika wajah ini terlihat di cermin, aku semakin sadar bahwa tidak ada yang dapat aku sombongkan. Wajah ini Allah ciptakan dengan bahan yang sama dengan orang lain, lantas mengapa aku menganggap diriku superior. Padahal di balik wajah ini aku menyimpan banyak sekali aib keburukan yang tidak diketahui oleh orang lain. Bisa saja dengan mudah Allah buka di hadapan orang banyak suatu saat nanti. Sungguh tak ada kebenaran di dalam kesombongan.

01 Juni 2011

Wanita Sempurna


Ini kisah perjumpaan dua orang sahabat yang sudah puluhan tahun terpisahkan hidupnya. Mereka kangen-kangenan, ngobrol ramai sambil minum kopi di sebuah kafe. Awalnya topik yang dibicarakan adalah soal-soal nostalgia zaman sekolah dulu, namun pada akhirnya menyangkut kehidupan mereka sekarang ini.
"Ngomong-ngomong, mengapa sampai sekarang kamu belum juga menikah?" ujar seorang kepada temannya yang sampai sekarang membujang.
"Sejujurnya sampai saat ini saya terus mencari wanita yang sempurna. Itulah sebabnya saya masih melajang. Dulu di Bandung, saya berjumpa dengan seorang gadis cantik yang amat pintar. Saya pikir inilah wanita ideal yang cocok untuk menjadi istriku. Namun ternyata di masa pacaran ketahuan bahwa ia sangat sombong. Hubungan kami putus sampai di situ.
"Di Jakarta, saya ketemu seorang wanita rupawan yang ramah dan dermawan. Pada perjumpaan pertama, aku kasmaran. Hatiku berdesir kencang, inilah wanita idealku. Namun ternyata belakangan saya ketahui, ia banyak tingkah dan tidak bertanggung jawab.
"Saya terus berupaya mencari. Namun selalu saya temukan kelemahan dan kekurangan pada wanita yang saya taksir. Sampai pada suatu hari, saya bersua wanita ideal yang selama ini saya dambakan. Ia demikian cantik, pintar, baik hati, dermawan, dan suka humor. Saya pikir, inilah pendamping hidup yang dikirim Tuhan."
"Lantas," sergah temannya yang dari tadi tekun mendengarkan, "Apa yang terjadi? Mengapa kau tidak segera meminangnya?" Yang ditanya diam sejenak. Suasana hening.
Akhirnya dengan suara lirih, sang bujangan menjawab, "Baru belakangan aku ketahui bahwa ia juga sedang mencari pria yang sempurna."
Untuk direnungkan: Get the point?? Nobody's perfect, dear... even yourself.
==========================================
Sumber artikel, dari buku:
Sudarmono, Dr.(2010). Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 Kisah Sumber Inspirasi. Yogyakarta: Idea Press

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Skull Belt Buckles