06 Juli 2011

Habibie : Imtak dan Iptek Merupakan Refleksi dalam Kehidupan


London (ANTARA News) - Mantan Presiden Republik Indonesia, Prof. Dr.-ing B.J. Habibie mengatakan keseimbangan imtaq (iman dan takwa) dan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) merupakan refleksi dua unsur penting dalam kehidupan manusia yang senantiasa harus dijaga.

Hal itu disampaikan B.J. Habibie dalam acara pertemuan dengan berbagai unsur masyarakat Indonesia di Berlin dan sekitarnya yang terdiri dari para pelajar, organisasi keagamaan, organisasi seni dan budaya maupun masyarakat umum di Wisma Duta Besar RI, Berlin, baru-baru ini.

Fungsi Penerangan, Sosial, Budaya KBRI Berlin, Purno Widodo dalam keterangannya yang diterima Antara London, Selasa mengatakan dalam pertemuan tersebut Prof Habibie didampingi Ketua Ikatan Alumni Jerman, Dr. Ilham Akbar Habibie.

Menurut Habibie, Imtaq menjaga agar manusia tidak tersesat dalam kehidupan, sementara, iptek diperlukan untuk membawa perubahan positif, kemajuan, dan kesejahteraan dalam kehidupan manusia.

Dalam pertemuan itu Prof Habibie yang didampingi Duta Besar RI Berlin, Dr. Eddy Pratomo, menyampaikan ukuran keberhasilan seorang pemimpin adalah sejauh mana yang dipimpin menjadi lebih baik dari pemimpin.

Oleh sebab itu, penting pembangunan kapasitas sumber daya manusia serta pemanfaatan teknologi dalam meningkatkan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Acara tatap muka dan dikusi berlangsung akrab dan hangat, karena masyarakat Indonesia di Berlin juga berkesempatan untuk mengenal lebih jauh keluarga besar Prof. BJ. Habibie yang turut menyertai dalam kunjungannya ke Jerman sejak sang istri tercinta meninggal dunia dua tahun lalu.

Selama di Berlin, Prof. Habibie dengan didampingi Duta Besar RI Berlin, Dr. Eddy Pratomo juga mengadakan pertemuan dengan Presiden Federal Jerman, Dr. Christian Wulff, Menteri Luar Negeri Jerman, Dr. Guido Westerwelle, dan Ketua Fraksi CDU/CSU parlemen Jerman (Bundestag), Volker Kauder.(*)
(ZG)

05 Juli 2011

Sepak Terjang IM di Indonesia


Oleh: Abu Ghozzah
ikhwan.net – Indonesia adalah negeri Islam terbesar di dunia dalam jumlah penduduknya. Telah merasakan kepedihan penjajahan asing dari negara-negara Barat seperti Portugal, Belanda dan Jepang. Sehingga isu umat Islam di negara ini menjadi ingatan setiap muslim di penjuru dunia dan menyibukkan opini nasional serta dunia Islam.

Oleh karena Al-Ikhwan Al-Muslimun (IM), sejak awal, sangat konsen dengan persoalan umat Islam di Indonesia dan menempati level opini dan praktis.

Di level opini, IM berperan dalam menampilkan isu umat Islam Indonesia dan mengecam tindak kejahatan penjajah yang dilakukan di atas negeri Indonesia. Salah satu upaya itu adalah mengirimkan kawat telex kecaman penindasan Belanda atas Indonesia.

Terkait persoalan kemerdekaan rakyat Indonesia, kantor pusat IM mengirimkan surat protes kepada Sekjen Dewan Majelis Umum PBB dan Menteri Belanda di Mesir. Isi surat tersebut adalah sebagai berikut:

“Serangan Membabi-buta Belanda ke Indonesia adalah tindakan penindasan terhadap dunia Arab dan Islam, serta rasa kemanusiaan secara umum. Oleh karena itu, IM, atas nama bangsa Arab dan Islam, meminta pertanggungjawaban negara Anda atas tumpahnya darah saudara muslim mereka di negeri Indonesia yang independen.”

IM di wilayah Lembah Nil, memprotes penjajahan Belanda atas bangsa Indonesia. Mereka meminta kepada PBB, atas nama dunia Arab dan Islam, untuk intervensi dalam urusan ini, menghentikan penjajahan dan memutuskan keputusan yang benar.

Dalam beberapa konfrensi IM, banyak dipertegas tentang penguatan hubungan antara negara-negara Arab dengan negara-negara tetangganya non Arab, seperti Indonesia.

Sebagai contoh, dalam konfrensi rakyat pertama IM yang diselenggarakan di Kairo pada bulan Oktober 1945 ada tuntutan wajib mengakui kemerdekaan Indonesia dan dijaga dari campur tangan asing manapun.

Al-Imam Al-Banna juga menempatkan isu penjajahan Indonesia ini dalam persoalan yang bisa menghadang kebangkitan Islam. Dalam risalah berjudul “Problematika kita dalam konteks sistem Islam” Al-Banna mengatakan; ”Dan Indonesia yang jumlah penduduknya mencapai 70 juta jiwa, dengan mayoritas muslim, ditekan oleh Belanda yang terus melanjutkan penjajahan Sekutu atas negeri-negeri Islam. Belanda ingin menjauhkan bangsa Indonesia dari hak utamanya untuk bebas dan merdeka.”

Bidang Hubungan Dunia Islam dan Isu Indonesia:

Adapun di level praktis, bidang hubungan Dunia Islam IM, sejak pendiriannya tahun 1944, menjalankan peran aktif untuk memperkuat hubungan antara IM di Mesir dan kaum muslimin Indonesia. Bidang ini sengaja menghubungkan negeri Islam satu dengan negeri-negeri lainnya, menyatukan kebijakan umum dan mendirikan komisi Timur Jauh, mencakup negara-negara timur dan tengah Asia, termasuk didalamnya Indonesia.

IM juga merangkul gerakan Islam pejuang di Indonesia. Salah satu gerakan itu adalah Gerakan Pejuang dibawah pimpinan Ahmad Soekarno, Muhammad Hatta, Sutan Syahrir dan orang-orang yang serius berjuang hingga Indonesia mendapatkan kemerdekaannya. Kemudian mengumumkan deklarasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 yang ditanda-tangani oleh Soekarno dan Hatta.

IM memiliki pengaruh baik dalam gerakan Indonesia, bahkan sebuah partai Islam menyatakan bergabung dengan IM.

Demikianlah IM terus mendukung rakyat Indonesia hingga mencapai kemerdekaan tahun 1945. Beberapa delegasi Indonesia datang ke kantor pusat IM sehingga tali hubungan ini semakin kuat. Mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang kuliah di Universitas Al-Azhar memiliki peran dalam membawa ideologi IM saat mereka pulang ke negaranya lalu menyebarkannya.

Gaung Dakwah IM di Indonesia:

Indonesia menyambut baik dakwah IM. Pemuda dan putera-putera terbaik Indonesia bergabung dibawah panji IM. Rumah-rumah IM di Kairo dan negara-negara Arab menyambut para pejuang dan pemimpinnya. Kantor pusat IM, dari belakang, mensupport bangsa Indonesia semuanya, mendukung isu Indonesia. Bahkan membuat kolom khusus tentang isu Indonesia, dalam koran IM.

Secara terus terang, IM mengecam kekejaman Belanda yang memaksakan kehendaknya kepada bangsa Indonesia dengan kekuatan senjata.

Tanggal 20 Agustus 1946, Mursyid ‘Am IM menerima kawat telex dari warga Indonesia yang tinggal di Mekkah. Isinya sebagai berikut:

“Kami menyampaikan aspirasi atas upaya Anda dalam membela isu Indonesia dan sekaligus mengucapkan selamat atas setahun dari kemerdekaan Indonesia.”

Malam tanggal 6 Mei 1946, delegasi Indonesia dipimpin oleh H. Agus Salim, Deputi Menlu Indonesia berkunjung ke kantor pusat dan koran IM. Beliau mengungkapkan rasa terima kasih Indonesia atas dukungan IM kepada mereka.

Tanggal 10 November 1947, mantan PM Indonesia dan penasehat Presiden Soekarno, Sutan Syahrir, berkunjung ke kantor pusat dan koran IM. Kedatangann mereka disambut dengan gembira dan meriah oleh IM.

Kantor pusat IM mendukung komisi yang pernah dibentuk untuk solidaritas Indonesia dan Mursyid ‘Am dipilih menjadi salah satu anggotanya.

IM juga memberikan ruang besar, khususnya di majalah “Al-Muslimun” kepada pemikir-pemikir dan juru dakwah Indonesia untuk menuangkan ide-idenya di majalah tersebut. Salah satu contohnya, pejuang Dr. M. Natsir yang banyak dipengaruhi oleh pemikiran Imam Al-Banna dan manhaj IM dalam melakukan perubahan (reformasi). Ust. Abdullah al-Aqil, semoga Allah merahmatinya, mengomentari Dr. M. Natsir. Saat itu M. Natsir ditanya tentang ulama dan tokoh yang berpengaruh. Dalam jawabannya, M. Natsir menyebutkan, salah satu tokoh berpengaruh itu adalah Imam Hasan Al-Banna.

Imam Al-Banna dalam Pandangan Orang Indonesia:

Salah satu bentuk interaksi kuat antara IM dan bangsa Indonesia adalah catatan-catatan dari sejumlah rakyat Indonesia yang menyanjung ketokohan Imam Al-Banna. Catatan-catatan ini sudah dimuat dalam majalah “Al-Dakwah” edisi 104 tahun ketiga tanggal 25 Jumadil Awal 1372 H atau bertepatan 10 Februari 1953.

Ulama Indonesia, Ust. Muhammad Hasyim, mengomentari peran asy-Syahid Al-Banna dalam isu Indonesia:

“Memperingati kesyahidan Ust. Hasan Al-Banna, rakyat Indonesia mengingat upaya besar dan pengaruh dukungan beliau kepada isu Indonesia di Mesir dan timur Arab. Mereka mengenang dalam peringatan kesyahidan Al-Banna, apa yang mereka dapatkan dari dampak dakwah IM, yang diwakili oleh Imam asy-Syahid. Gaung dakwah IM dirasakan oleh seluruh kaum muslimin di Indonesia. Dakwah yang menyerukan untuk mengambil ajaran-ajaran Islam dan menerapkan risalah agungnya.

Almarhum Hasan Al-Banna, memiliki kenangan dakwah tersendiri di mata pemuda Indonesia karena konsen beliau membela isu Indonesia di negaranya, Mesir. Koran, majalah dan percetakan IM menjadi ruangan luas bagi aktualisasi kegiatan dan mengkampanyekan isu negaranya.

Saya berharap dalam peringatan ini, agar tali hubungan antara negara Indonesia dengan Mesir terus menguat. Saya mengharap IM bisa berjalan sesuai dengan konsep yang dirintis oleh Imam Syahid dalam berdakwah dan bekerjasama antar umat Islam. Semoga Allah ta’ala merahmati Imam Syahid dan meridhoinya.”

Ust. Ahmad Hasyim, perwakilan warga Indonesia di Mesir, di majalah yang sama (edisi 52) tanggal 16 Jumadil Awal 1371/ 13 Februari 1952, mengomentari dengan mengatakan:”Orang Indonesia menilai bahwa gerakan IM adalah gerakan Islam yang berupaya membebaskan bangsa-bangsa muslim dari penjajahan. Mereka menemukan prinsip-prinsip ini ada dalam IM dan upaya asy-Syahid Imam Al-Banna dalam membela isu Indonesia bersama perjuangannya. Sehingga buku dan majalah IM menjadi pusat perjuangan membela Indonesia untuk meraih kemerdekaannya.

Oleh karena itu, para pemimpin Indonesia yang sedang berkunjung ke Mesir, dari berakhirnya perang hingga kesyahidan Imam Syahid Al-Banna, selalu kunjungan dan ketemu dengan Al-Banna selalu menjadi agenda utama kunjungan mereka itu.

Dari sejumlah pertemuan dengan Almarhum Hasan Al-Banna, penulis menemukan kekuatan Islam dalam dirinya. Beliau sangat konsen dengan isu-isu pembebasan negeri-negeri Islam dari penjajahan. Kita berhutang budi kepada asy-Syahid Al-Banna.

Sumber rujukan:

- Majmu’atur rasail Imam asy-Syahid Hasan Al-Banna, dar tauzi wan nasr Islamiyah.

- Qolu ‘anil Imam Al-Banna, Jum’ah Amin Abdul Aziz, Syarikah Basair wal buhus wad dirasat.

- Silsilah min turotsil Imam Al-Banna; Qodhoya Alam Islami, Syarikah Basair wal buhus wad dirasat.

- Silsilah min turotsil Imam Al-Banna; ilal ummah nahidhoh, Syarikah Basair wal buhus wad dirasat.

- Min A’lami dakwah wal harokah islamiyah al-muaseroh: Ust. Abdullah al-Aqil, jilid pertama, cet. Darul Bashir.

- ikhwan wikipidea. (io/mar)

Berpikir dan Berjiwa Besar Dalam Praktek

Ini bukan resensi dari buku Berpikir dan Berjiwa Besar yang merupakan terjemahan The Magic of Thinking Big. Apa yang akan dibahas memang khas Motivasi Islami, tidak ada kaitannya dengan buku itu meski mengambil judul yang sama.

Jadi apa yang dimaksud dengan berpikir dan berjiwa besar? Ada dua istilah yang perlu kita lihat disini, yaitu berpikir besar dan yang kedua berjiwa besar.
Berpikir Besar

Apa yang dimaksud berpikir besar? Kenapa harus peduli dan apa dampaknya dalam kehidupan kita?

Berpikir adalah dasar tindakan Anda. Disadari atau tidak, Anda bertindak sesuai dengan apa yang ada dalam pikiran Anda. Nah dari sinilah, jika Anda memiliki pikiran besar atau berpikir besar, maka Anda akan melakukan tindakan yang besar dan tentu saja akan mendatangkan hasil yang lebih besar pula.

Yang dimaksud dengan besar disini, bukan hanya besar dalam kuantitas saja tetapi juga besar dalam hal kualitas. Keberanian, kecerdasan, kejelian, dan kepekaan terhadap peluang adalah ciri dari kualitas berpikir seseorang. Belum disebut bertindak besar jika hanya kerja keras dengan hasil yang kecil.

Halangan dan rintangan ibarat sebuah batu yang ada di depan kita. Sementara pikiran ibarat kendaraan yang akan melalui batu tersebut. Jika kendaraan jauh lebih besar dibandingkan batu yang ada, maka kendaraan tersebut akan lebih mudah melalui batu tersebut. Namun, jika kendaraannya kecil, bahkan lebih kecil dibandingkan dengan batu yang ada di hadapannya, maka akan sulit untuk melangkah.

Itulah analogi bagaimana peran berpikir besar dalam kehidupan Anda. Seberapa besar pikiran Anda bisa dilihat dari seberapa besar keberanian Anda dalam menghadapi halangan dan rintangan yang didalamnya termasuk masalah dan resiko. Jika Anda mudah ciut menghadapinya, artinya Anda masih berpikir sempit.
Berjiwa Besar

Lalu Apa yang disebut dengan berjiwa besar? Analoginya hampir sama, hanya saja ada dalam jiwa Anda yang berkaitan dengan mental dan emosi Anda. Jika berpikir besar lebih fokus pada masalah logika dan fisik, maka berjiwa besar berkaitan dengan masalah mental dan emosi.

Takut, khawatir, merasa sesak di dada (arti kiasan), pengecut, memilih yang aman, memilih yang pasti, dan rendah diri adalah ciri dari seseorang yang masih memiliki jiwa yang sempit.

Berpikir besar sudah dibahas, berjiwa besar sudah dibahas, masih ada satu kata yang belum dibahas dari kalimat Berpikir dan Berjiwa Besar, yaitu:
Makna Kata DAN

Mana yang lebih penting? Jawabannya adalah keduanya karena sangat berkaitan dan saling tergantung. Untuk itulah saya memilih kata DAN, dalam menulis “Berpikir Dan Berjiwa Besar”, yang artinya keduanya harus ada, tidak bisa memilih salah satu saja.

Kadang, ada orang yang secara intelektual memiliki kemampuan. Memiliki potensi yang besar dalam hal ilmu dan keterampilan, namun karena jiwanya sempit, tetap saja akan terhambat. Banyak juga orang yang memiliki mental berani, tetapi dia berhenti seketika saat menghadapi rintangan yang besar karena tidak terpikirkan bagaimana cara melaluinya. Keduanya penting, keduanya perlu, makanya kita menyebutkan berpikir dan berjiwa besar, bukan berpikir atau berjiwa besar.
Agar Bisa Berpikir dan Berjiwa Besar
Bahan Yang Diperlukan Agar Berpikir dan Berjiwa Besar

Jika pikiran dan jiwa diibaratkan tubuh, supaya bisa menjadi besar maka kita harus memiliki bahan (nutrisi) yang cukup untuk membangunnya. Anda tidak akan pernah bertubuh besar jika tidak memiliki asupan giji yang cukup.

Kabar baiknya, bahan itu sudah ada tinggal mencarinya. Begitu juga potensi dalam diri Anda pun sudah memadai untuk mengolahnya, yaitu akal dan hati serta tubuh Anda yang merupakan potensi yang diberikan Allah kepada setiap manusia. Bahan itu sudah ada, maka Anda tinggal menggunakan bahan yang ada. Artinya Anda perlu ilmu agar bisa membangkitkan potensi dalam diri Anda.

Maka langkah-langkahnya agar memiliki pikiran dan berjiwa besar adalah

1. Memahami dan meyakini bahwa Anda memiliki potensi yang cukup untuk membangun pikiran dan jiwa sebesar apa pun.
2. Memiliki ilmu dan keterampilan bagaimana menggunakan pikiran untuk menghasilkan ide yang disebut dengan kreativitas.
3. Memiliki ilmu dan keterampilan untuk memanfaatkan potensi-potensi yang ada.

Dan ternyata, bisa Anda lihat bahwa ketiga langkah diatas bertumpu pada belajar atau menuntut ilmu.
Melatih Pikiran dan Jiwa

Anda tidak akan langsung berpikir dan berjiwa besar sesaat setelah membaca artikel ini. Ibaratnya sama dengan tubuh, meski Anda sudah memakan makanan protein tinggi, Anda tidak akan langsung memiliki tubuh besar dan kuat. Ya, Anda peru melatihnya.

Jika tubuh dilatih dengan beban, maka pikiran dan jiwa pun sama. Artinya Anda harus melatih diri menghadapi beban pikiran dan jiwa agar bisa berpikir dan berjiwa besar. Sama dengan melatih tubuh, Anda perlu melakukannya secara bertahap.

1. Anda bisa mulai melatih berpikir dan berjiwa besar dalam imajinasi terlebih dahulu. Melamun? Ya, sedikit mirip, tapi bukan melamun yang tidak-tidak. Bukan juga berangan-angan, namun melatih pikiran dan jiwa Anda dalam imajinasi. Lebih lengkapnya tentang teknik ini bisa Anda baca pada ebook dan audio Beautiful Mind Power.
2. Mulailah menjalani proyek, yang paling mudah ialah mulai berbisnis dengan resiko yang sedikit menantang. Kenapa harus “sedikit menantang”, karena tanpa tantangan ibarat tanpa beban. Kenapa harus sedikit? Ini adalah tahapan awal.
3. Tingkatkan tantangan Anda.
4. Terus lakukan, tidak ada akhirnya sampai akhir hayat.

Jadi, dalam prakteknya tidak ada yang disebut berpikir dan berjiwa besar sempurna. Anda akan selalu bisa meningkatkan berpikir dan berjiwa besar.
(sumber:motivasiislam)

Mensos : Anggaran Penyandang Sosial Belum Ideal


Lembang, Jawa Barat (ANTARA) - Menteri Sosial RI Salim Segaf Aljufri mengatakan anggaran untuk mengatasi penyandang sosial sebesar Rp4,1 trilun masih jauh dari ideal sehingga perlu peningkatan.

"Anggaran yang dialokasikan untuk Kementerian Sosial Rp 4,1 triliun. Sedangkan empat persen diantaranya dialokasikan untuk mengatasi anak-anak terlantar. Idealnya, dana yang diberikan kepada mereka bisa mencapai 20 persen. Artinya, setiap anak bisa mendapatkan Rp 300 ribu," kata Salim Segap Aljufri kepada wartawan usai melakukan kunjungan kerja di Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Selasa.

Berdasarkan data yang dimilikinya, jumlah wanita rawan sosial ekonomi mencapai 1,2 juta, anak terlantar 5,4 jiwa, orang yang hidup di bawah garis kemiskinan sebanyak 3,1 juta jiwa. Jumlah tersebut, berpeluang besar untuk mendapatkan perhatian pemerintah sangat tinggi.

Dibutuhkan adanya soliditas dan kebersamaan semua pihak untuk mengatasi berbagai penyandang sosial, katanya.

"Jumlah penyandang sosial setiap tahunnya akan bisa berkurang jika ada partisipasi dari semua pihak. Semua harus diselesaikan dengan perencanaan matang. Pembangunan jangan sampai hanya dirasakan oleh segelintir orang saja," kata menteri asal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu.

Lebih jauh dirinya mengatakan, seandainya APBN mencapai Rp 3.000 triliun dan tak berhutang pada negara manapun, maka pelayanan terhadap semua penyakit dan penyandang sosial akan dilakukan jauh lebih mudah. Meski begitu, bangsa Indonesia tidak bisa hanya berhenti meratapi atas nasib yang menimpanya.

"Salah satu peran yang tidak ketinggalan pentingnya adalah corporate social responsibility (CSR) dari tiap perusahaan dan dedikasi seorang ibu. Anggaran yang minim bisa diatasi dengan adanya CSR perusahaan. Sedangkan anak yang terlantar maupun jalanan bisa dicegah jika ada kasih sayang tulus dari seorang perempuan," ujarnya.

Menurut dia banyak permasalahan sosial saat ini lantaran warga masyarakat kurang mengaplikasikan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.

Padahal dalam ajaran agama setiap orang diwajibkan untuk saling membantu dan tidak membiarkan sesamanya hidup dalam kelaparan dan ketidakpastian masa depan, katanya.

"Yang terjadi setiap orang dari kita sibuk memikirkan diri sendiri. Isilah kemerdekaan dengan sebaik-baiknya. Kita bisa bangkit jika ada kebersamaan dari semua pihak," katanya.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Skull Belt Buckles