31 Mei 2011

Mahaguru dan Nelayan


Pada suatu waktu, ada seorang mahaguru yang ingin mengambil break dari kehidupannya sehari-hari sebagai akademisi. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke sebuah pantai dan meminta seorang nelayan untuk membawanya pergi melaut sampai ke horizon.
Seperempat perjalanan, mahaguru tersebut bertanya, "Wahai nelayan, apakah Anda mengenal ilmu geografi?"
Sang nelayan menjawab, "ilmu geografi yang saya ketahui adalah kalau di laut sudah mulai sering ombak pasang, maka musim hujan segera akan tiba."
"Nelayan bodoh!" kata mahaguru tersebut.
"Tahukah kamu bahwa dengan tidak menguasai ilmu geografi kamu sudah kehilangan seperempat kehidupanmu."
Seperempat perjalanan berikutnya, mahaguru tersebut bertanya pada nelayan apakah dia mempelajari ilmu biologi dan sains? Sang nelayan menjawab bahwa ilmu biologi yang dia kenal hanyalah mengetahui jenis ikan apa saja yang dapat dimakan. "Nelayan bodoh, dengan tidak menguasai sains kamu sudah kehilangan seperempat kehidupanmu." Kemudian mahaguru tersebut bercerita tentang Tuhan yang menciptakan umat manusia dengan struktur tubuh, kapasitas otak yang sama, dan lain-lain.
Selanjutnya mahaguru tersebut bertanya apakah nelayan tersebut mempelajari matematika? Sang nelayan menjawab bahwa matematika yang dia ketahui hanyalah bagaimana cara menimbang hasil tangkapannya, menghitung biaya yang sudah dikeluarkannya, dan menjual hasil tangkapannya agar dapat menghasilkan keuntungan secukupnya. Lagi-lagi mahaguru tersebut mengatakan betapa bodohnya sang nelayan dan dia sudah kehilangan lagi seperempat kehidupannya.
Kemudian, di perjalanan setelah jauh dari pantai dan mendekati horizon, mahaguru tersebut bertanya, "apa artinya awan hitam yang menggantung di langit?"
"Topan badai akan segera datang, dan akan membuat lautan menjadi sangat berbahaya." Jawab sang nelayan.
"Apakah bapak bisa berenang?" Tanya sang nelayan.
Ternyata sang mahaguru tersebut tidak bisa berenang. Sang nelayan kemudian berkata,
"Saya boleh saja kehilangan tiga-perempat kehidupan saya dengan tidak mempelajari tiga subyek yang tadi diutarakan oleh mahaguru, tetapi mahaguru akan kehilangan seluruh kehidupan yang dimiliki."
Kemudian nelayan tersebut meloncat dari perahu dan berenang ke pantai sedangkan mahaguru tersebut tenggelam.
Demikian juga dalam kehidupan kita, baik dalam pekerjaan ataupun pergaulan sehari-hari. Kadang-kadang kita meremehkan teman, anak buah ataupun sesama rekan kerja. Kalimat "tahu apa kamu" atau "si anu tidak tahu apa-apa" mungkin secara tidak sadar sering kita ungkapkan ketika sedang membahas sebuah permasalahan. Padahal, ada kalanya orang lain lebih mengetahui dan mempunyai kemampuan spesifik yang dapat mengatasi masalah yang timbul.
Seorang operator color mixing di pabrik tekstil atau cat mungkin lebih mengetahui hal-hal yang bersifat teknis daripada atasannya. Intinya, orang yang menggeluti bidangnya sehari-hari bisa dibilang memahami secara detail apa yang dia kerjakan dibandingkan orang 'luar' yang hanya tahu 'kulitnya' saja.
Mengenai kondisi dan kompetisi yang terjadi di pasar, pengetahuan seorang marketing manager mungkin akan kalah dibandingkan dengan seorang salesperson atau orang yang bergerak langsung di lapangan.
Atau sebaliknya, kita sering menganggap remeh orang baru. Kita menganggap orang baru tersebut tidak mengetahui secara mendalam mengenai bisnis yang kita geluti. Padahal, orang baru tersebut mungkin saja membawa ide-ide baru yang dapat memberikan terobosan untuk kemajuan perusahaan.
Sayangnya, kadang kita dibutakan oleh ego, pengalaman, pangkat dan jabatan kita sehingga mungkin akan menganggap remeh orang lain yang pengalaman, posisi atau pendidikannya di bawah kita. Kita jarang bertanya pada bawahan kita. Atau pun kalau bertanya, hanya sekedar basa-basi, pendapat dan masukannya sering dianggap sebagai angin lalu.
Padahal, kita tidak bisa bergantung pada kemampuan diri kita sendiri, kita membutuhkan orang lain. Keberhasilan kita tergantung pada keberhasilan orang lain. Begitu sebuah masalah muncul ke permukaan, kita tidak bisa mengatasinya dengan hanya mengandalkan kemampuan yang kita miliki. Kita harus menggabungkan kemampuan kita dengan orang lain.
Sehingga bila perahu kita tenggelam, kita masih akan ditolong oleh orang lain yang kita hargai kemampuannya. Tidak seperti mahaguru yang akhirnya ditinggalkan di perahu yang sedang dilanda topan badai dan dibiarkan mati tenggelam karena tidak menghargai kemampuan nelayan yang membawanya.
Yang jadi pertanyaan kita sekarang, apakah kita masih suka bertingkah laku seperti sang mahaguru? Bila ya, seberapa sering?

==========================================
Sumber artikel, dari buku:
Sudarmono, Dr.(2010). Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 Kisah Sumber Inspirasi. Yogyakarta: Idea Press.

28 Mei 2011

Air Cirata Tercemar, Perkembangan Ikan Melambat


CIANJUR, (PRLM).- Sejumlah pembudidaya ikan air tawar yang pada berbagai jaring apung di Waduk Cirata, Kab. Cianjur, mengeluhkan kondisi melambatnya masa pertumbuhan dan perkembangan fisik komoditas yang diusahakan. Akibat pencemaran air Waduk Cirata, rata-rata masa pertumbuhan dan perkembangan fisik ikan-ikan yang ada melambat 1,5-2 bulan dibandingkan normal.

Pengurus Perhimpunan Pembudidaya Ikan Waduk Cirata (Perpic), Icep Dadan, di Cianjur, Jumat (27/5) menyebutkan, kondisi demikian terutama dirasakan tiga komoditas ikan utama yang diusahakan, yaitu ikan emas, ikan nila, dan ikan bawal. Kendati kondisi ini sudah mulai terjadi tahun 2003, namun pengaruh signifikan terasa sejak setahun terakhir.

"Akibatnya, banyak pembudidaya ikan Waduk Cirata gagal memanfaatkan peluang saat terjadinya lonjakan pesanan ikan air tawar dari pasaran. Ini disebabkan banyak terjadi ikan-ikan yang ada, terlambat memenuhi ukuran selama ini menjadi standar pasar saat pesanan muncul," katanya.

Dikatakan, pembudidayaan ikan emas yang dalam keadaan normal rata-rata tiga bulan sudah dapat dipanen, kini umumnya baru dapat dipanen 4-5 bulan dan banyak yang menjadi buntet. Sedangkan ikan nila semula rata-rata sudah dipanen 5-6 bulan menjadi 7-8 bulan, sedangkan pengusahaan ikan bawal yang sebelumnya menjanjikan harapan baru, mulai terserang penyakit akibat kualitas air yang merepotkan.

Menurut dia, kondisi ini sebenarnya semakin merepotkan para pembudidaya ikan, namun mereka memang dihadapkan harus meneruskan usaha. Ironisnya, para pembudidaya ikan jaring apung di Waduk Cirata juga lamban meningkatkan produksi, selain gagal memanfaatkan peluang peningkatan pesanan, juga jumlah ikan yang terjual pun menurun.

Disebutkan Icep, adanya pencemaran air pada Waduk Cirata, dirasakan sangat memukul usaha para pembudidaya ikan setempat. Terhambatnya masa pertumbuhan fisik, membuat ikan-ikan yang dibudidayakan menjadi rentan penyakit.

27 Mei 2011

Senanglah Meminta dan Menerima Nasehat

HARI ini, polemik pembangunan gedung baru DPR RI masih terus berlanjut. Suara pro dan kontra terus bermunculan. Masing-masing pihak mengemukakan beberapa alasan. Suara yang pro mengatakan para anggota DPR membutuhkan gedung baru karena beberapa sebab --salah satunya karena kantor kerja tiap anggota seluas ± 32 m2 tidak leluasa dan tidak optimal untuk kinerja dewan-- pembangunan gedung itu tidak mungkin dibatalkan, anggaran pembangunan gedung tersebut sudah ada alokasinya sendiri dan semua bidang termasuk pendidikan sudah ada alokasinya sendiri dan keduanya tidak bisa dibandingkan.

Suara yang kontra mengatakan para anggota DPR tidak sensitif terhadap kesulitan rakyat, mengkhianati rakyat, dan mengarahkan fungsi anggaran untuk kebutuhan dirinya sendiri untuk hedonisme dan konsumtif. Juga muncul suara yang mengatakan pembangunan gedung yang menelan biaya amat besar tersebut berbanding terbalik dengan kondisi mayoritas rakyat yang masih berkubang dalam kemiskinan, pembangunan gedung tersebut harus dibatalkan, lebih baik anggaran yang dialokasikan untuk pembangunan gedung DPR sebesar Rp. 1,138 triliun tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan rakyat yang lebih penting dan mendesak termasuk untuk membangun gedung-gedung sekolah.

Mereka yang kontra ini bukan sekadar menyuarakan suaranya dengan menggunakan beberapa media dan cara –termasuk dengan cara berdemonstrasi-- tapi bahkan ada sebagian dari mereka yang menggugat ketua DPR beserta para anggota DPR yang pro pembangunan gedung baru ke pengadilan.

Apa yang mereka lakukan adalah sebagai usaha mereka untuk menjalankan fungsi kontrol sosial informal. Kontrol sosial informal yang dijalankan sebagian anggota masyarakat ini bisa dikategorikan sebagai usaha untuk mengingatkan atau dengan kata lain menasehati para anggota DPR agar lebih pro terhadap rakyat, serta lebih sensitif dan empati terhadap problem, kesulitan dan penderitaan rakyat.

Menasehati adalah fitrah, panggilan jiwa dan kebutuhan manusia. Tanpa disuruhpun -secara langsung atau tidak-- dengan cara yang baik atau tidak senang dan ringan hati akan selalu menasehati manusia lainnya yang diketahuinya melanggar norma-norma yang berlaku di masyarakat.

Dinasehati juga adalah fitrah, panggilan jiwa dan kebutuhan manusia. Namun tidak semua manusia -termasuk yang memberikan nasehat- senang dinasehati, serta bersedia mendengar, menerima dan menjalankan nasehat. Lebih dari itu, orang yang menjadi obyek nasehat bisa marah, menganggap orang yang memberikan nasehat ikut campur urusannya, dan mencap orang yang menasehatinya sebagai orang yang sok suci.

Rasulullah saw. bersabda yang artinya: “Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya. Apabila melihat aib padanya dia segera memperbaikinya.” (HR. Bukhari)

Sejatinya dinasehati adalah menguntungkan. Selayaknya orang yang dinasehati tidak cukup sekadar mendengar dan menerima nasehat dengan senang dan ikhlas hati, tapi lebih dari itu seharusnya dia merasa beruntung, bersyukur kepada Allah swt. lalu berterima kasih kepada orang yang menasehatinya meskipun cara memberikan nasehat kurang berkenanan di hati. Mengapa demikian? Karena masih ada orang lain yang peduli pada dirinya, pada keselamatan dan kebahagiaan dirinya di dunia ini dan di kehidupan di akhirat kelak. Orang yang menasehatinya berarti telah menyelamatkan diri, kehidupan dan agamanya, serta membuat dirinya bahagia bukan hanya di kehidupan yang fana ini tapi juga di kehidupan yang kekal kelak.

Nasehat yang diberikan orang lain ketika kita berniat akan berbuat salah bisa mencegah kita benar-benar jadi berbuat salah. Nasehat yang kita terima ketika kita telah berbuat salah menjadikan diri kita bisa mengetahui dan menyadari kesalahan kita, mencegah kita terus menerus melakukan perbuatan salah, serta bisa mendorong kita untuk bertaubat.

Sebagai analogi, jika suatu ketika kita berdiri di sebuah sawah dan di belakang kita ada seekor ular besar berbisa. Ular itu sudah siap akan menggigit kaki kita. Kita tidak mengetahui keberadaan ular tersebut. Pada saat itu ada orang lain yang berada di depan kita mengetahui ular itu. Lalu dia memberitahukan kepada kita.

Tentu kita tidak marah, tapi justru berterima kasih karena telah menyelamatkan diri dan nyawa kita.

Itu adalah sikap yang alami dan normal. Semua orang normal pasti bersikap demikian. Lain halnya dengan orang yang tidak normal alias kurang waras. Dia bisa bersikap tidak normal. Diberitahu ada ular yang akan menggigitnya, bukannya berterima kasih, dia malah bisa marah-marah, menyerang dengan kata-kata dan secara fisik.

Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw. orang lain adalah layaknya cermin bagi diri kita. Kita membutuhkan cermin untuk melihat wajah dan diri kita apakah telah berpenampilan pantas. Kita tidak bisa melihat wajah, kepala, dan tubuh bagian belakang kita tanpa cermin. Ketika bercermin kita mendapati ada sesuatu yang tidak pantas pada wajah atau badan, kita tidak akan marah-marah pada cermin. Yang kita lakukan adalah menghilangkan sesuatu yang mengganggu penampilan.

Demikian juga halnya dalam kehidupan sehari-hari, kita membutuhkan orang lain untuk memberitahu sesuatu yang tidak pantas (aib) yang ada pada diri kita. Kita tidak bisa membaca dan melihat diri kita sendiri secara obyektif. Ketika “cermin” itu mendapati dan memberitahu aib kita, selayaknya kita tidak marah-marah pada “cermin” itu. Yang perlu kita lakukan adalah menghilangkan aib yang kita miliki. Selain itu kita seyogyanya berterima kasih padanya yang telah sudi membaca dan memberitahu aib kita tanpa pamrih.

Menasehati dan Sabar

Allah swt. melalui surat al-'Ashr menginformasikan bahwa semua manusia mengalami kerugian dalam kehidupannya kecuali mereka yang melakukan empat hal: 1. Beriman; 2. Mengerjakan amal shaleh; 3. Saling menasehati supaya menaati kebenaran; 4. Saling menasehati supaya menetapi kesabaran.

Mengapa mereka yang tidak melakukan empat hal tersebut rugi? Rugi karena tidak (bisa) memanfaatkan anugerah Allah swt. yang tidak bisa dinilai dan digantikan oleh harta berupa waktu, umur, dan hidup dengan sebaik-baiknya. Cara terbaik memanfaatkan waktu, umur, dan hidup adalah dengan jalan mengamalkan keempat hal tersebut.


إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْ

“Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. al-'Ashr [103]:1 - 3)

Ayat di atas juga mengisyaratkan dua hal: Pertama, manusia mengalami kerugian dalam kehidupannya jika memberikan dan atau menerima nasehat tidak didasari oleh iman, dan tidak diniatkan sebagai amal shaleh. Dan kedua, salah satu ciri orang beriman dan orang shaleh adalah senang meminta, memberikan, dan menerima nasehat.

Para pendahulu kita yang shaleh (shalafus shaleh) telah memberikan teladan luar biasa dalam menerapkan budaya saling menasehati. Salah satu dari mereka adalah Umar bin al-Khattab ra. yang merupakan salah satu orang dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga, Beliau selalu sangat perhatian, ikhlas, dan senang terhadap setiap nasehat yang ditujukan kepadanya walaupun disampaikan oleh orang biasa.

Pada suatu kesempatan ketika beliau berkumpul dengan beberapa sahabat tiba-tiba ada seorang berkata: “Ittaqillaha ya Umar!.” (Bertaqwalah/Takutlah kepada Allah, wahai Umar!). Para sahabat lain yang mengetahui kedudukan dan tingkat ketaqwaan beliau marah kepada orang itu. Beliau sendiri tidak marah tapi justru mencegah kemarahan mereka sambil berkata: “Biarkan dia berkata demikian, sesungguhnya tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak mau mengatakannya, dan tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak mau mendengarnya”.

Demikian pula para sahabat lain juga memberikan suri teladan dalam hal saling menasehati sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Muhammad Abduh ketika menafsirkan hadits pertemuan dan perpisahan dua sahabat.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan: "Suatu keterangan daripada ath-Tabrani yang ia terima dari jalan Hamaad bin Salmah, dari Tsabit bin `Ubaidillah bin Hashn menyebutkan: "Ketika dua orang sahabat Rasulullah saw. bertemu, mereka belum berpisah kecuali salah satu dari mereka membaca Surat al-`Ashr terlebih dahulu, setelah itu mereka mengucapkan salam sebagai tanda berpisah”."

Hadits ini ditafsiri oleh Syaikh Muhammad Abduh dengan memberikan penjelasan bahwa tujuan pembacaan surat al-‘Ashr oleh para sahabat ketika hendak berpisah bukanlah sekadar bertujuan untuk tabarruk (mengambil barokah). Namun lebih dari, tujuan mereka membacanya adalah saling memperingatkan isi kandungan surat tersebut, terutama ayat yang berisi perintah Allah swt. untuk saling menasehati dalam kebenaran dan dalam kesabaran.

Para sahabat Rasulullah saw. adalah generasi Muslim terbaik. Keislaman, keimanan, dan ketaqwaan mereka tidak patut diragukan dan dipertanyakan. Namun demikian, mereka tidak merasa tidak membutuhkan budaya saling menasehati. Apatah lagi kita yang keislaman, keimanan, dan ketaqwaan kita masih bisa dan patut diragukan dan dipertanyakan.

Untuk itu marilah kita saling menerima dan memberi nasehat atas dasar iman. Dan jadikanlah semua itudilakukan dengan hati terbuka, senang, dan ikhlas hati. Jangan sebaliknya, suka menasehati namun jarang mendengar nasehat orang lain.Wallahu a’lam bish showab.

Abdullah al-Mustofa, penulis adalah kolumnis hidayatullah.com dan kandidat Master Studi Al-Qur'an di IIUM (International Islamic University Malaysia)

Ketua Umum JidarR : Ada Indikasi Rekayasa Politik Terkait Rumor Pembelian Mobil Dinas Baru Bupati Cianjur


Cianjur - Sejumlah elemen masyarakat mengkritisi rencana pembelian mobil dinas baru bagi Bupati/Wakil Bupati Cianjur, serta DPRD. Mereka menyesalkan pembelian mobil dinas baru, tanpa memerhatikan kebutuhan masyarakat di tingkat grass root.

Ketua Umum Jaringan Independen Aliansi Rakyat Cianjur (JidarR), Jamaluddin. Menurut Jamaluddin, pihaknya mengendus indikasi adanya rekayasa politik terkait rumor pembelian mobil dinas baru, baik eksekutif maupun legislatif.

"Yang kami soroti bukan kaitan anggarannya, tapi yang berbicara di sini adalah nurani. Indikasi adanya rekayasa politik sebagai ucapan terima kasih dari bupati dan wakil bupati terpilih dengan dalih sebagai penunjang mobilitas kinerja, memang ada," kata Jamaluddin kepada INILAH.COM, Kamis (26/5/2011) di Sekretariat JidarR, Pamoyanan, Cianjur.

Rumor pembelian mobil dinas bagi kalangan eksekutif dan legislatif disinyalir tanpa melalui proses lelang karena ada peraturan baru, menurut Jamaluddin, sudah menyakiti hati rakyat Cianjur.

"Sekali lagi yang harus digarisbawahi adalah nurani. Masa di tingkat pejabat berkendaraan mewah, tapi rakyatnya sendiri masih ada yang enggak makan. Ini sebuah ironis di tengah kemelut ekonomi yang kerap dialami rakyat banyak," tegasnya.

Sebelumnya, pascapelantikan Bupati dan Wakil Bupati Cianjur terpilih, Tjetjep Muchtar Soleh-Suranto pekan lalu, saat ini mulai mencuat kabar penggantian mobil dinas bagi sejumlah pejabat di Cianjur. Tak tanggung-tanggung, harga satu unit mobil mewah keluaran pabrikan Eropa itu mencapai ratusan juta rupiah.

Berdasarkan informasi, sedikitnya ada lima unit mobil dinas yang diajukan kepada panitia lelang oleh Bagian Umum Setda Kabupaten Cianjur. Satu di antaranya sedan Nissan keluaran terbaru, satu unit jenis jip merek Toyota, dan 3 unit jenis SUV. [gin]

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Skull Belt Buckles