14 Mei 2011

Alergi Susu Sapi Pada Bayi

Alergi susu adalah salah satu alergi makanan yang paling sering pada bayi dan anak. Protein susu sapi merupakan penyebab alergi susu terbanyak. Selain susu sapi, bayi juga bisa alergi protein susu kambing domba. Meskipun jarang, beberapa bayi yang alergi susu sapi juga bisa alergi protein susu kedelai. Alergi susu sapi tidak hanya terbatas pada susu sapi cair melainkan juga berbagai produk susu sapi seperti susu formula, keju, es krim, dan lain-lain. Jumlah bayi penderita alergi susu sapi antara 2% – 7% dari populasi.
Alergi susu sapi tidak sama dengan intoleransi laktosa, meskipun gejalanya bisa saja serupa. Alergi susu sapi adalah ganggunan imunologis (sistem imun) sedangkan intoleransi laktosa adalah gangguan saluran pencernaan.

Gejala
Gejala alergi susu sapi bisa bervariasi dari ringan sampai berat. Alergi susu sapi bisa timbul dini/cepat yaitu beberapa menit – 2 jam setelah konsumsi susu (early reaction) dan bisa timbul lambat (late reaction).
Reaksi dini (early reaction) susu sapi memberikan gejala urtikaria (biduran, kaligata), angioedema, muntah-muntah, sesak napas, mengi atau dermatitis atopi eksaserbasi akut.
Sedangkan alergi susu sapi yang timbul lambat, bisa memberikan gejala berikut ini :
Diare
Buang air besar bercampur darah
Nyeri perut, kolik (colic infantil)
Kulit gatal, kemerahan
Dermatitis atopi/eksim
Bisa juga timbul gangguan pernapasan seperti batuk lama berulang, pilek (runny nose).
Gejala-gejala tersebut perlu dibedakan dengan penyakit lain yang lebih sering seperti :
Gastroenteritis akut yang juga menunjukkan gejala diare, muntah, diare bercampur darah, atau nyeri perut
ISPA yang juga menunjukkan gejala batuk, pilek, bisa disertai sesak napas
Asma, post viral cough, atau ISPA yang ping-pong yang dapat menunjukkan gejala batuk lama atau batuk kronik berulang (BKB)

Penyebab
Alergi protein susu sapi disebabkan gangguan pada sistem imun (sistem pertahanan tubuh). Pada bayi/anak yang menderita alergi susu sapi, sistem imun mengenali protein susu sebagai benda asing (antigen) yang berbahaya, sehingga menyebabkan peningkatan antibodi imunoglobulin E (IgE) yang berfungsi untuk menetralisasi protein tersebut. Apabila bayi terpapar protein untuk yang kedua kalinya atau lebih, antibodi IgE tadi mengenali antigen protein lalu menyebabkan tubuh mengeluarkan histamin dan mediator inflamasi lainnya. Histamin dan mediator inflamasi selanjutnya menyebabkan timbulnya reaksi alergi (berbagai gejala reaksi alergi).
Ada dua protein susu sapi yang menyebabkan alergi :
Protein Casein
Protein Whey

Faktor Risiko
Faktor-faktor yang dapat meningkatkan terjadinya alergi susu sapi pada bayi/anak adalah :
Adanya riwayat alergi pada orang tua.
Dermatitis atopi
Adanya alergi lain pada bayi/anak

Diagnosis
Menegakkan diagnosis alergi protein susu sapi tidaklah mudah. Kemungkinan diagnosis lain perlu dipikirkan terlebih dahulu mengingat bahwa prevalensi alergi susu sapi tidak cukup tinggi.
Dokter perlu melakukan anamnesis secara mendetail dan mencari kaitan antara makanan/minuman dengan timbulnya alergi. Orang tua sebaiknya melakukan pencatatan makanan/minuman yang dikonsumsi anak/bayi setiap harinya dan mencatat kapan keluhan timbul. Apabila dicurigai alergi susu sapi, perlu dilakukan eliminasi makanan/minuman susu sapi dan produknya. Challenge test dapat dilakukan untuk melihat apakah timbul reaksi saat diberikan makanan/minuman produk susu sapi.
Apabila diperlukan dokter mungkin akan meminta untuk dilakukan pemeriksaan penunjang skin prick test (tes kulit) dan pemeriksaan laboratorium IgE. Interpretasi skin prick test dan antibodi IgE harus disesuaikan dengan gejala klinis.

(sumber : ArisClinik )

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Skull Belt Buckles